Dari Becak China Hingga Trans Musi

Melirik Transportasi Palembang Dari Masa ke Masa
Sistem transportasi selalu berubah. Terus mengalami kemajuan seiring perkembangan zaman. Yang tengah dikembangkan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang saat ini, Trans Musi. Yang kini menggerus bus kota dan menggusur angkutan kota (angkot) ke pinggiran. Melirik ke belakang, transportasi di Palembang sudah beberapa kali mengalami evolusi. Bahkan, sebelum era kemerdekaan, ternyata ada juga yang namanya becak China. Seperti apa perkembangan transportasi di kota empek-empek in dari masa ke masa?

Dari catatan kecil dibuat penjajah Belanda, kota Palembang awal abad ke-19 disebut dengan kota air. Dibelah sungai Musi, lebih dari 100 anak sungai mengaliri kota ini. Sebutan Venice of The East atau Venezia dari Timur pun melekat. Karena keadaan Palembang tak ubahnya kota air seperti Venezia, Italia.

Faktor sungai yang menjadi urat nadi inilah yang membuat kehidupan masyarakat tinggal di pinggiran sungai. Pendek kata, ketika jalur transportasi darat belum berkembang, sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam, transportasi wong Plembang lebih dominan menggunakan jalur air.

Dari satu tempat ke tempat lainnya, masyarakat lebih banyak menggunakan perahu dengan menelusuri anak-anak sungai Musi. Pemandangan pasar terapung layaknya di Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel, red) masih cukup banyak diingat bagi kalangan tertentu.

“Kalau dulu, yang jualan model, tekwan, sayur sampe duren itu masih banyak di perahu,” celetuk, Ali Hanafiah SH, Sejarah dan budayawan Palembang kepada Sumeks Minggu, ditemui Rabu (19/10) lalu.

Angkutan air skala besar, zaman Belanda terdapat kapal Mary serta Kapal Roda Lambung. Yang mengangkut penumpang dari kawasan Kertapati, Plaju hingga Sungai Gerong.

Moda transportasi air ini lanjut Ali Hanafiah yang akrab di panggil Mang Amin usai zaman kemerdekaan masih banyak digunakan. Hingga dibangun serta dioperasionalkanya jembatan Ampera sekitar tahun 1965, yang namanya penggunaan perahu serta jalur transportasi air mulai berkurang.

“Paling yang masih terlihat saat ini perahu Kajang. Digunakan orang luar Palembang untuk mengangkut hasil perkebunan ke Palembang. Bentuk perahunya besar dengan atap,” ungkapnya.

Transportasi darat sendiri mulai berkembang awal tahun 1920. Ketika penjajah Belanda secara sporadis menimbun anak-anak sungai, mendukung moda transportasi ini. Hanya saja, pada masa Belanda belum terdapat angkutan umum.

Yang namanya angkutan seingat Mang Amin yang kini menjabat sebagai Kepala UPTD Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II masih berupa becak. Bukan juga becak roda tiga yang dikayuh dari belakang. Namun becak roda dua yang ditarik oleh orang China dengan ciri khas rambut berkuncir.

Itulah sebabnya, transportasi yang satu ini disebut dengan becak China. Operasinya berada di pasar 16 Ilir dan sekitarnya. Menarik kalangan pribumi berada serta None None Belanda. Becak China, diperkirakan beroperasi tahun 1920 hingga 1940.

“Penarik becak ini memang seluruhnya orang China. Pada masa Kesultanan Palembang, orang China dianggap sebagai pendatang, tinggalnya saja di rumah rakit,” ungkap Mang Amin.

Setir di Kiri, Hidupkan Mesin Diengkol
Usai zaman kemerdekaan, ketika teknologi dan jalur darat mulai berkembang, sistem transportasi pun berevolusi. Adalah jeep Willys asal Amerika yang dijadikan angkutan umum oleh wong Plembang. Dulunya angkutan ini disebut dengan Taksi. Kini, angkutan yang sudah hampir hilang ini disebut dengan ketek.

Nah, konon nama ketek disematkan pada mobil diproduksi pada perang dunia ke II ini karena suaranya seperti perahu ketek di sungai Musi “tek, tek, ktek, ketek”. Jalanya pun lambat seperti ketek sungai. Padahal, saat itu naik kendaraan itu bagi banyak kalangan sudah termasuk “ngerot” alias hebat.

Di jalan Sosial Km 5, Ampera 3-4 Ulu, Sekojo-Lemabang, Ampera Tangga Takat, tahun 1980 an angkutan ini masih banyak dijumpai. Masuk awal tahun 2000, angkutan ini seperti raib ditelan bumi. Sulitnya mencari onderdil, borosnya bahan bakar diyakini penyebab tak digunakannya lagi mobil ketek.

Pada masa mobil ketek ini, ada angkutan lain jenis Chevrolet. Bentuknya seperti sedan namun dengan body mini bus. Baik mobil ketek serta Chevrolet ini terbilang unik. Karena buatan Amerika, setir berada dibagian kiri. Untuk menghidupkannya pun mesti diengkol dengan tangan searah jarum jam.

Tahun 1980an, ketika teknologi mulai berkembang, munculah jenis angkutan baru. Produk Jepang, Toyota Hi-Ace masuk. Bentuknya body panjang, masih banyak menggunakan kayu dan tanpa kepala. Kendaraan ini banyak digunakan pada trayek Plaju Ampera serta Kertapati Ampera.

Tahun 1990an, muncul lagi jenis terbaru Toyota Kijang. Pada masa yang sama kemudian muncullah yang namanya bus kota. Saat awal muncul bus kota sempat disebut sebagai kemajuan. Saat ini, bus kota mulai ditinggalkan. Pemkot Palembang pun mulai menggalakan penggunaan Trans Musi yang lebih nyaman dengan Air Conditioner (AC). “Yang pasti, angkutan itu tergerus oleh kemajuan zaman,” tandas Mang Amin. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 25 Oktober 2011 12:53 | Sumeks Minggu

Posted on October 14, 2012, in Palembang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: