Membangun Palembang Kota Religi

PlgIndah.Wp.ComSarjan Tahir, bakal calon (balon) wali kota Palembang periode 2013-2018 berkomitmen menghadirkan nuansa religi di Kota Palembang. Menurut pemegang mandat pendiri Partai Demokrat Sumsel ini, Palembang sudah terkenal sebagai pusat keagaaman baik pada masa Kerajaan Sriwijaya maupun Palembang Darussalam.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Berbagai bentuk kemaksiatan seperti panti pijat, prostitusi dan lainnya diyakini akan hilang dengan sendirinya jika mental moral dan suasana religi hadir di Kota Palembang. Menanamkan budaya malu serta diiringi mental religi yang kuat bukan hanya hadir setahun sekali pada bulan Ramadhan saja, namun harus berkelanjutan. Dan ini harus terus menjadi konsep tersendiri demi perbaikan generasi banngsa.

Menurut Sarjan Taher, pembangunan Kota Palembang dengan konsep religi memang tidak mudah. Tetapi harus segera dilakukan dengan perbaikan moral anak bangsa yang tanpa mengenal batas usia. “Jika sudah tertanam budaya malu, moralitas tinggi dan nuansa religi, maka tempat hiburan itu tidak akan ada yang mengunjungi, dengan sendirinya akan tutup,” jelasnya.

Nah, lanjut Sarjan, untuk mewujudkan Palembang kota religi bukan hannya sekedar simbol menjelang pemilukada. Harus ada konsep yang jelas dengan melibatkan guru ngaji, ustadz-ustadzah, serta penceramah sebagai duta. Mereka akan masuk ke kalangan menengah dan atas di setiap wilayah Kota Palembang. “Ini bisa terwwujud dengan komitmen dan sungguh-sungguh,” ungkap Sarjan.

Dikatakan suami dari Nita Kusuma Wati ini, untuk mewujudkan hal tersebut, bisa dilakukan tanpa menggunakan APBD maupun APBN. Pemkot punya media melalui Kantor Departemen Agama (Kandepag).

Lebih lanjut dikatakan Sarjan, perlu ditekankan bahwa tidak semua wisatawan yang datang ke Palembang untuk mencari hiburan fisik. “Namun lebih menngutamakan kebudayaan dan religi, karena seakan kembali ke masa lalu. Kalau para wisatawan mencari hiburan fisik, tentunya di negara mereka tempat hiburan lebih lagi,” bebernya.

Selain itu, Pemkot Palembang dapat bekerja sama dengan remaja dan pengurus masjid bagaimana caranya dapat meramaikan dan menghidupkan kegiatn masjid. Sehingga masjid menjadi pusat kegiatan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW. “Indikasi kota maju itu tidakk mutlak dengan pembangunan, namun ketika kita menentukan daerah yang sejuk, masyarakatnya ramah, aman dan bagus. Hal ini bisa terwujud dengan adanya pembangunan moral generasi lintas usia,” ujarnya.

Bagaimana dengan agama non muslim? Kata Sarjan, pemberlakuan hal yang sama juga terjadi untuk agama lain. Karena semua agama mengajarkan kebaikan dan moral yang baik untuk masa depan bangsa dan agama.

“Palembang pada zaman Kerajaan Sriwijaya juga sebagai pusat belajar agama Buddha. Tokoh agama harus belajar terlebih dahulu di Palembang untuk mematangkan ilmunya dalam berdakwah. Ini contoh bahwa sejarah membuktikan baha Palembang adalah kota religi,” bebernya.

Anda yakin bisa melakukan? Ditanya demikian, Sarjan tersenyum dan memberikan jawaban sederhana. Kaatanya, jangan sampai hujan terlebih dahulubaru mengeluarkan payung, tapi sediakan perahu sebelum banjir. “Artinya moral dan religi masyarakat Palembangharus mantap terlebih dahulu mengiringi pembangunan pesat Kota Palembang dalam segala bidang,” pungksanya. (cj9/ce2)

Komentar:

Konsep Religi Cocok untuk Palembang

Imam Besar Masjid Agung Palembang, H Nawawi Dencik menyambut baik visi Sarjan Tahir yang merencakan konsep membangun Palembang. Menurutnya, semakin majunya Kota Palembang tentunya menimbulkan tantangan bagi masyarakat.

“Adanya konsep religi bisa menekan jika ada perbuatan yang menyimpang. Antusiasme masyarakat Kota Palembang sangat tinggi bahkan warga prnah shalat sampai di Jembatan Ampera,” jelasnya.

Untuk benar-benar membangun konsep religi, setidaknya pemimpin harus amanah dan mendengarkan keluhan masyarakat. “Selain itu, di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman sebaiknya membentangkan tulisan Asmaul Husna dan papan-papan iklan yang gambarnya kurang baik diganti dengan tulisan Kota Religius dan konsepnya dibuat seindah mungkin,” bebernya. (cj18/ce2)

Sumatera Ekspres, Selasa, 16 Oktober 2012

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on October 17, 2012, in Palembang and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: