Mempertajam Peran Pendidikan Agama (1)

PlgIndah.Wp.Com

Oleh : Dr Kasinyo Harto MAg
Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN RAden Fatah Palembang

Tak dapat dipungkiri munculnya banyak persoalan sosial di Tanah Air, seperti kasus bullying di sekolah-sekolah, tawuran antarpelajar, kasus narkoba, korupsi, kerusuhan, konflik dan kekerasan (violence) yang mengatasnamakan agama, untuk sebagian, adalah cermin ketidakberdayaan sisten pendidikan di negeri ini, khususnya pendidikan agama.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Munculnya berbagai masalah sosial sebagaimana tersebut, telah membawa banyak orang untuk mempersoalkan pendidikan, khusunya pendidikan agama. Apa yang salah dengan sistem pendidikan agama? Apakah pembelajaran pendidkan agama yang berlangsung selama ini tidak berhasil membina peserta didik menjadi manusia beragama, berbudi mulia sebagai individu maupun masyarakat sebagaimana dicita-citakan oleh bangsa indonesia?

Banyak kalangan mengansumsikan bahwa variabel penyebab kegagalan pendidikan agama dalam membentuk karakter lebih disebabkan karena minimnya porsi jam pelajaran yang dialokasikan pada pelajaran agama oleh pihak penyelenggara. Asumsi tersebut, mungkin benar adanya tapi hemat penulis persoalan jam pelajaran bukan menjadi faktor determinan penyebab kegagalan pendidikan agama dalam membentuk karakter peserta didik. Hanya saja ketidakberdayaan sistem pendidikan agama di Indonesia, sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional kita secara keseluruhannya dalam pembentukan karakter anak-anak didik kita.

Tampaknya lebih disebakan oleh pendidikan agama selama ini lebih menekankan pada proses transfer ilmu agama kepada anak didik, bukan pada proses transfer nilai-nilai luhur keagamaan kepada anak didik untuk membimbing agar menjadi manusia yang berkepribadian kuat dan berakhlak mulia.

Dalam konteks ini Romo Mangunwijaya, dengan nada menggugat ia berucap, pendidikan agama kita saat ini masih mementingkan huruf daripada roh, lebih mendahulukan tafsiran harfiah di atas cinta kasih. Apakah pola pendidikan agama semacam itu pantas punya hak ada di dalam masyarakat yang semakin dewasa, dengan masalah-masalah yang semakinn kompleks (Wadiyatuti, Kedaulatan Rakyat: 3 Mei 2002). Sayangnya tidak semua edukator agama benar-benar sadar akan persoalan ini. Sementara Ahmad Najib Burhani mengatkan, bahwa mengapa pendidikan agama di Indonesia begitu mandul dan tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap peserta didik? Hal ini disebabkan karena nilai-nilai agama tidak transformasikan secara positif, kritis dan berorientasi ke depan, ia sekedar menjadi ornamen pendidikan yang tidak memiliki fungsi kecuali sebagai pajangan ruangan kurikulum pendidikan nasional (Ahmed Najib Burhani: 2001 : 205).

Hal senada diungkap oleh Amin Abdullah, menurutnya pembelajaran pendidikan agama yang berjalan hingga sekarang lebih banyak terfokus pada persoalan-persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata. Pendidikan agama terasa kurang terkait atau kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik lewat berbagai cara, media dan forum. Selanjutnya “makna” dan “nilai” yang telah terkunyah dan terhayati tersebut dapat menjadi sumber motivasi bagi peserta didik untuk bergerak-berbuat-berperilakusecara kongkret agamis dalam wilayah kehidupan praksis sehar-hari (Amin Abdullah: 2001 : 59-59)

Berangkat dari problematika tersebut, tanpa mengurangi sedikitpun jerih payah para edukator agama khususnya para edukator agama Islam di pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, masjid-masjid, majelis-majelis taklim, rumah-rumah ibadah, dan rumah-rumah, tampaknya meninjau ulang serta mendiskusikan kembali pendidikan agama Islam merupakan persoalan penting dan mendesak untuk kedepannya. Kajian-kajian bagaimana sesungguhnya pendidikan agama Islam dilaksanakan dalam, situasi dan zaman yang terus berkembang dan berubah perlu mendapatkan perhatian. Demikian pula kemungkinan perlunya perubahan metodologi, jika memang objek sasaran pendidikan agama Islam yang terus berubah.

Prose pengajaran pendidikan agama Islam sebagaimana berlangsung yang bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis-indiktrinitif-doktriner, tidaklah menarik bagi peserta didik dan akan cepat membosankan. Karena itu perlu dicari pendekatan baru sehingga isi dan metodologi pendidikan agama Islam menjadi aktual-kontekstual. Para edukator hendaknya menggunakan metodologi pengajaran yang dapat memberikan dorongan bagi bakat dan pemikiran peserta didik. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan agama Islam akan relevan dan sesuai dengan gerak perubahan dan tuntutan zaman serta bermanfaat bagi bagi pengembangan kreatifitas peserta didik. Sampai disini, kiranya cukup sebagai alasan untuk meneliti dan menelaah ulang bagaimana proses pendidikan agama Islam di lapangan. Jika tidak, dikhawatirkan justru misi utama yang hendak diemban oleh pendidikan agama Islam, yakni untuk mentrasfer nilai-nilai agama kepada peserta didik dan masyarakat pada umumnya justru malah tidak atau kurang mencapai sasaran. (*)

Selanjutnya –>

Sumatera Ekspres, Selasa, 16 Oktober 2012

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on October 17, 2012, in Opini and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s