Sekilas Tentang Mobil “Ketek” Jeep

Oleh: A. LATIF

Membicarakan mobil Jeep kita tidak boleh mengabaikan sejarah Perang Dunia II. Kala itu, untuk menjawab tantangan perang, militer Amerika Serikat dituntut untuk menciptakan sebuah kendaraan perang pengintai yang tangguh segala medan perang.

Ada tiga perusahaan otomotif di Amerika Serikat yang merespon kebutuhan kendaraan buat perang tersebut. Yakni Bantam Car Company, Ford, dan Willys-Overland Motor Company (WOMC).

WOMC sendiri sebelumnya bernama Overland Automotive Division of Standard Wheel Company (OADSWC), berdiri pada 1908. John North Willys kemudian membeli perusahaan ini pada 1912. Alhasil, namanya pun ikut berubah.

Tapi, WOMC bangkrut semasa Depresi Ekonomi terjadi di Amerika pada 1920-an. WOMC kemudian mengalami perubahaan struktur kepemilikan perusahaan. Namanya pun berubah lagi menjadi Willys-Overland Motors, Inc, (WOMI). Perusahaan ini memproduksi mobil Willys untuk kebutuhan masyarakat sipil seperti truk (Willys Overland) dan mobil penumpang.

Bantam Car Company menjadi saingan utama WOMI dan Ford guna merancang kebutuhan militer itu secara keseluruhan. Namun, Willys tak mau ketinggalan juga dengan merancang desain bernama “Go Devil” dengan “flat-head four cylinder engine”. Ford juga memiliki ide yang tak kalah cemerlang untuk menjawab kebutuhan itu, sesuai roh yang diinginkan pemerintah Amerika Serikat untuk kepentingan militernya.

Tapi, pilihan pemerintah akhirnya jatuh pada Willys. Willys kemudian mendapat julukan baru, yakni GPW. “G” untuk government (pemerintah), “P” untuk pigmy (kecil; istilah ini sebenarnya diciptkan oleh Ford) dan “W” untuk Willys.

Soal pemberian nama “Jeep” pun sebenarnya tak lepas dari berbagai rumor. Ada cerita yang menyebutkan kata “Jeep” berasal dari ungkapan “GP”, singkatan dari “general purpose” yang berarti banyak fungsi. Cerita lain menyebutkan “Jeep” adalah bahasa slang untuk hal untuk banyak tujuan yang luar biasa. Soalnya, pada tahun 1936, salah satu karakter dalam film kartun “The Popeye” diberi nama “Eugene the Jeep”, yang diplot memiliki kehebatan yang luar biasa!

Memang, tidak semua mobil Jeep itu ikut digunakan buat perang. Sebagian mampir ke Palembang, digunakan sebagai angkutan umum, lalu diberi nama “ketek”. (dari beberapa sumber)

“Mobil Ketek” Itu Masih Ada

Hingga tahun 1990-an awal, angkutan umum di Palembang masih menggunakan Jeep Willis M38 Kanvas keluaran tahun 1952. Sebagian kecil Jeep Willis keluaran tahun 1948. Menariknya, masyarakat Palembang menyebut mobil ini “ketek”.

Mengapa disebut “ketek”? Ternyata jawabannya sederhana, mobil ini mengeluarkan suara seperti perahu ketek di sungai Musi, yang mengeluarkan suara “tek, ketek, ketek”, dan lajunya juga lamban seperti perahu ketek.

Meskipun penyamaan ini tidaklah begitu tepat, tapi masyarakat Palembang keburu menyebutnya “mobil ketek” hingga saat ini.

Tapi, sejak maraknya produksi mobil angkutan umum sejak awal tahun 1990-an, serta perawatan Jeep Willis yang sudah sulit dilakukan lantaran onderdilnya sulit didapatkan lagi, kendaraan ini pun hilang dari peredaran.

Angkutan umum yang masih menggunakan Jeep Willis terakhir kalinya berlangsung di Ampera-3-4 Ulu, Sekojo-Lemabang, dan Ampera-Tanggatakat. Setelah reformasi 1998, semua kendaraan itu raib seperti ditelan bumi.

Stir mobil ketek ini, ada yang di kanan dan ada yang di kiri. Mesinnya berjenis 4 WD, dan memiliki 4 gigi, termasuk gigi mundur.

Penggunaan bensin sangat boros. ”Tujuh kilometer perjalanan, mobil ini bisa menghabiskan 1 liter bensin,” kata Sangkut (60), warga Seberang Ulu I Palembang, yang masih mengoleksi Jeep Willis M38 Kanvas keluaran tahun 1952.

Dulunya, Sangkut memiliki puluhan Jeep Willis. Tapi semuanya sudah dijual, termasuk yang sudah dikoleksi Hotel Aryaduta.

Kendala yang dihadapi Sangkut sekarang ini adalah pengurusan pajak mobil yang menurutnya sangat susah diurus, lantaran nomor mesin yang sudah hilang karena berkarat, sehingga nomor mesin hilang. ”Pajaknya bisa diurus tetapi harus mengeluarkan biaya yang cukup besar sadangkan mobil yang ada dibengkel saya ini ada 6 mobil,” kata Sangkut.

Sumber: BERITA MUSI — 11.11.2009

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on December 31, 2012, in Sejarah and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: