Monthly Archives: January 2013

Taman Hutan Wisata Punti Kayu

Taman Hutan Wisata Punti Kayu

Hutan Wisata Punti Kayu ini dapat di jangkau dengan kendaraan umum trayek Km 12 yang letaknya sekitar 7 Km dari pusat kota dengan luas + 50 ha. Sejak tahun 1998 telah ditetapkan sebagai hutan lindung. Read the rest of this entry

Keraton Kuto Gawang

Oleh: DJOHAN HANAFIAH

BANGUNAN pada zaman Sriwijaya sudah rusak dan hilang, barangkali wajar saja, karena dimakan oleh waktu lebih dari seribu tahun. Akan tetapi, bagaimana dengan nasib bangunan pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam pada awal dan pertengahannya? Nasibnya hampir sama. Peninggalan di akhir Kesultanan Palembang (abad ke-19) nyaris hancur atau tidak terpelihara. Pada saat ini hanya Masjid Agung Palembang yang bernasib baik, karena telah direstorasi dan direnovasi. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1757).

Keraton Palembang yang pertama kali dibangun oleh para priyayi yang datang dari Jawa pada abad ke-16, tepatnya dari wilayah Jipang dalam lingkup kekuasaan Kerajaan Demak. Para priyayi ini adalah pengikut Aria Jipang, yaitu Pangeran Penangsang yang tewas dalam perebutan tahta Demak. Dengan tewasnya Pangeran Penangsang, maka para pengikutnya melarikan diri dari wilayah Demak. Pimpinan para priyayi yang hijrah ke Palembang ini adalah Ki Gede Ing Sura. Dari nama dan gelarnya diketahui setidaknya dia adalah seorang sura, yang berarti: seorang gagah berani, bersifat kepahlawanan, laki-laki perkasa. Sedangkan gelar Ki Gede menurut H.J. de Graaf “Ki yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu Senapati, yaitu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis, dan Ki Ageng Pemanahan, dan bukan raden, menunjukkan bahwa mereka itu berasal dari kalangan rendahan. Akan tetapi, memang benar mereka itu merupakan pemuka-pemuka di daerahnya, terbukti mereka itu mempergunakan predikat ageng atau gede di belakang sebutan ki”. Read the rest of this entry

Kewalahan Tertibkan Miras

Pemkot Bakal Sidak 20 Usaha Modern

Kewalahan Tertibkan Miras

PALEMBANG — Peredaran minuman keras (miras) berkadar alkohol di atas lima persen di Metropolis, masih marak. Ironinya, pemerintah kota melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kewalahan melakukan penertiban.

Nah, fakta tersebut mendorong Satpol PP bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakkop) melakukan sidak terhadap 20 usaha medern yang menjual miras. “Sasaran itu tadi, 20 usaha modern seperti mall, hotel, kafe, minimarket, restoran dan lainnya yang menjual miras berkadar alkohol di atas lima persen,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palembang kepada koran ini, kemarin.

Menurut Ibnu, sidak dilakukan karena sepanjang 2012 banyak usaha modern terbuka yang menjual miras. Rencana sidak per triwulan dan berpegang pada Peraturan Daerah (Perda) No 11 Tahun 2006 tentang Pelarangan Peredaran Minuman Beralkohol. “Minuman yang dilarang itu,seperti Anggur Orang Tua, Vodka, Jack Daniel, Smirnof, dan berbagai merk miras lainnya,” tukasnya.

Read the rest of this entry