Keraton Kuto Gawang

Oleh: DJOHAN HANAFIAH

BANGUNAN pada zaman Sriwijaya sudah rusak dan hilang, barangkali wajar saja, karena dimakan oleh waktu lebih dari seribu tahun. Akan tetapi, bagaimana dengan nasib bangunan pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam pada awal dan pertengahannya? Nasibnya hampir sama. Peninggalan di akhir Kesultanan Palembang (abad ke-19) nyaris hancur atau tidak terpelihara. Pada saat ini hanya Masjid Agung Palembang yang bernasib baik, karena telah direstorasi dan direnovasi. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1757).

Keraton Palembang yang pertama kali dibangun oleh para priyayi yang datang dari Jawa pada abad ke-16, tepatnya dari wilayah Jipang dalam lingkup kekuasaan Kerajaan Demak. Para priyayi ini adalah pengikut Aria Jipang, yaitu Pangeran Penangsang yang tewas dalam perebutan tahta Demak. Dengan tewasnya Pangeran Penangsang, maka para pengikutnya melarikan diri dari wilayah Demak. Pimpinan para priyayi yang hijrah ke Palembang ini adalah Ki Gede Ing Sura. Dari nama dan gelarnya diketahui setidaknya dia adalah seorang sura, yang berarti: seorang gagah berani, bersifat kepahlawanan, laki-laki perkasa. Sedangkan gelar Ki Gede menurut H.J. de Graaf “Ki yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu Senapati, yaitu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis, dan Ki Ageng Pemanahan, dan bukan raden, menunjukkan bahwa mereka itu berasal dari kalangan rendahan. Akan tetapi, memang benar mereka itu merupakan pemuka-pemuka di daerahnya, terbukti mereka itu mempergunakan predikat ageng atau gede di belakang sebutan ki”.

Peran dan Fungsi Keraton
Keraton pertama yang didirikan oleh Ki Gede ing Sura ini adalah Keraton Kuta Gawang, situsnya sekarang menjadi kompleks Pabrik Pupuk Sriwijaya (Pusri). Makamnya berada di luar Kuta Gawang, yang sekarang dikenal sebagai makam Candi Gede ing Suro. Nama kerajaan yang didirikan adalah nama Palembang, suatu nama yang kharismatis dalam dunia Melayu. Legitimasi yang mereka bawa adalah dari Kerajaan Demak, yang juga merupakan “pewaris” Kerajaan Majapahit. Untuk memperkuat diri mereka di tengah orang-orang Melayu, selain melakukan perkawinan antarkeluarga keraton dengan orang-orang besar Melayu, mereka juga mengadaptasikan kebudayaan Melayu.

Keraton yang menjadi inti ibukota secara kosmologis merupakan pusat kekuatan magis kerajaan itu. Keraton Palembang adalah pusat dari Batanghari Sembilan, yang merupakan lambang kosmologi, yaitu adanya delapan penjuru mata angin, di mana penjuru kesembilan berada di Keraton Palembang Dengan demikian, klaim Palembang atas daerah-daerah luarnya berada di batas-batas batanghari (sungai). Luas kerajaannya bergantung siapa yang menjadi rajanya. Batas Kerajaan Palembang bisa besar dan bisa mengecil. Jika rajanya berpengaruh dan berdiplomasi tinggi, daerahnya akan meluas, demikian pula sebaliknya.

Kesultanan Palembang membagi wilayahnya menjadi:

Ibukota
Sebagai pusat kosmos, pusat kebudayaan, pusat politik dan kekuasaan, pusat magis dan legitimasi. Wilayah ini sepenuhnya di bawah Sultan Palembang.

Kepungutan

Kepungutan adalah daerah yang langsung diperintah Sultan. Menurut de Brauw “… dengan orang Kepungut, yang berarti ‘dipungut’ (dilindungi’, dimaksudkan adalah orang-orang pedalaman Palembang, yang langsung berada di bawah kekuasaan raja-raja. Mereka dikenakan segala pajak. Berbeda dengan penduduk perbatasan, yang tidak dibebani dengan pelbagai macam pajak, dan hanya dianggap sekutu yang hanya dikenakan cukai”.

Sindang
Di perbatasan wilayah kepungutan terletak wilayah sindang, yang merupakan wilayah paling ujung atau pinggir. Tugas sindang adalah menjaga batas-batas kerajaan. Penduduknya tidak membayar pajak dan beban-beban lain dari Kesultanan Palembang. Mereka dianggap orang-orang merdeka atau teman dari Sultan. Mereka hanya punya “kewajiban” (lebih bersifat adat), yaitu seba, setidaknya tiga tahun sekali ke Palembang. Menurut du Bois: “Tidaklah atas dasar kewajiban, akan tetapi oleh karena adanya adat di kalangan pribumi untuk saling kunjung-mengunjungi dan menjadi kebiasaan, bahwa mereka juga tidaklah datang dengan tangan hampa.”

Sikap
Di antara kedua bentuk wilayah tersebut terdapat wilayah sikap, suatu dusun atau kumpulan dusun yang dilepaskan dari marga, dibawahi langsung oleh pamong Sultan, yaitu jenang dan raban. Dusun-dusun ini terletak di muara-muara sungai yang strategis, dan mereka mempunyai tugas-tugas khusus untuk Sultan, umpamanya sebagai tukang kayuh perahu Sultan, tukang kayu, tukang pembawa air, prajurit, dan pelbagai keahlian lainnya. Mereka dibebaskan dari pelbagai bentuk pajak. Tugas yang dilakukan mereka adalah gawe raja.

Skets:J.v.d.Laen 1659

KERATON Kuta Gawang adalah sebuah keraton yang setidaknya telah berdiri selama 100 tahun, sebelum dibakar habis oleh VOC tahun 1659. Kuta Gawang berbentuk empat persegi, dikelilingi kayu besi dan unglen empat persegi dengan ketebalan 30 x 30 cm. Panjang dan lebar benteng ini berukuran 290 Rijnlandsche roede (1093 meter). Tinggi dinding temboknya adalah 24 kaki, atau kurang lebih 7,25 meter.

Benteng ini menghadap Sungai Musi dengan pintu masuk melalui Sungai Rengas. Sedangkan bagian kanan dan kiri benteng dibatasi oleh Sungai Buah dan Sungai Taligawe. Benteng ini mempunyai tiga baluarti di mana baluarti tengah terbuat dari batu. Orang orang asing bermukim di Seberang Ulu Sungai Musi. Mereka adalah orang-orang Portugis, Belanda, Cina, Melayu, Arab, Campa, dan lainnya.

Benteng ini mempunyai pertahanan berlapis dengan kubu-kubu yag terletak di Pulau Kemaro, Plaju, Bagus Kuning, dan Plaju. Di samping itu terdapat cerucuk yang memagari Sungai Musi antara Pulau Kemaro dan Plaju. Kuta Gawang merupakan kota yang dilindungi oleh kuto (= pagar dinding tinggi), sebuah tipikal kota zaman madya.

Pengetahuan kita tentang kota pada zaman Kuta Gawang ini amat sangat terbatas. Selain peta yang dibuat oleh Laksamana Joan Vander Laen sebelum menyerbu Palembang tahun 1659, juga sketsa tentang peperangan tahun 1659 di Kuta Gawang . Tidak ada naskah Palembang yang menjelaskan tentang bentuk dan isi Kuta Gawang tersebut. Oleh karena Kuta Gawang tersebut sangat tertutup, maka para penulis Eropa hanya menganalisis dari peta dan sketsa Kuta Gawang tersebut. Yang ada hanyalah laporan tentang penyerbuan ke Kuta Gawang serta pembumihangusan Kuta Gawang yang memakan waktu berhari-hari.

Atas peristiwa ini, raja dan rakyat Palembang mengungsi ke luar kota meninggalkan reruntuhan Kuta Gawang yang telah menjadi arang dan abu. Raja Palembang, Seda ing Rejek mengungsi ke Sakatiga (wilayah Kabupaten Ogan Ilir) dan wafat di sana. Selanjutnya, nasib Kuta Gawang setelah lebih 200 tahun kemudian terekam dalam sebuah laporan “… suatu tempat di mana satu abad lalu (sebenarnya dua abad lalu, penulis), telah berdiri keraton atau dalem dari Raja-raja Palembang waktu itu. Sedikit bekas bangunannya masih dapat dilihat, di sana sini ada sepotong dinding ditumbuhi tumbuhan yang memanjat dan bunga-bunga warna-warni yang biasa tumbuh di padangan. Reruntuhan gerbang dinaungi dan dilindungi di bawah beringin yang menarik, adalah segala-galanya sebagai sisa kenangan yang hidup, dari suatu tempat, di mana pernah ada suatu kerajaan, kemegahan, dan perlakuan despotisme. Di dekatnya atau sekitar reruntuhan berdirisuatu pendopo yang indah, pada musim kemarau kepala-kepala (pejabat) bangsa Melayu yang bertugas, ambtenar-amtenar, dan perwira-perwira bangsa Eropa berkumpul, untuk melatih diri dalam menembak menggunakan senapan dan yang serupanya (buks). Tempat ini diperkaya oleh alam dengan pohon-pohonan, flora dan fauna memberikan banyak manfaat. Gerombolan monyet bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain, dari ranting ke lain ranting, bahkan suara tembakan senapan tidak memaksa mereka meninggalkan tempat itu, karena banyaknya buah-buahan dan bunga-bunga yang tersedia.”

Pada tahun 1960-an tempat ini kemudian dibuka untuk pendirian pabrik pupuk, yaitu Pupuk Sriwijaya (Pusri). Pada waktu penggalian untuk konstruksi pabrik, banyak sekali terdapat balok-balok kayu bekas dinding kuto, juga temuan lainnya. Sayangnya, pada waktu itu kita belum mempedulikan masalah kesejarahan, sehingga temuan-temuan tersebut tidak menjadi perhatian.

Menuju Realitas Kultur Melayu-Jawa

Apa saja yang ada di balik kekukuhan dinding Kuta Gawang, setidaknya dapat dilihat pada beberapa catatan yang mungkin kurang memuaskan kita, namun setidaknya Kuta Gawang telah menancapkan sejarah kehidupan sosial politik dan budaya pada zamannya yang amat kental dengan legitimasi dan dasar kontinuitas kekuasaan dari Jawa. Sebagai konsekuensi dari ikatan semacam “pertuanan” dengan Jawa diikat dan diperkuat. Dengan demikian, secara kultural dan politik, dalam kerangka adaptasi telah terikat dan terkena perkembangan atas apa yang terjadi di Keraton Jawa, khususnya Mataram, yang mencapai puncaknya pada zaman Sultan Agung di tahun 1613—1645 dan putranya Amangkurat I.

Pemahaman akan entitas “pertuanan” tersebut menyebabkan pengertian protektorat dari Keraton Jawa, khususnya Mataram atas Palembang menjadi kurang tepat. Palembang mengakui suzerenitas Mataram, karena memang memerlukan kondisi ini demi prestise dan gengsi. Jadi, dalam konteks ini, secara adabnya Palembang hanya memerlukan semacam “sebah” atau “sembah sujud”, berupa upeti, yang tidak ditentukan ukuran atau nilainya. Waktu penyampaian upeti yang tidak menentu. Selama pemerintahan Sultan Agung, hanya beberapa kali ke Mataram. Dan, Mataram dengan segala kehormatan membalasnya dengan pemberian yang cukup berharga dan memberikan pengawalan dengan berpuluh kapal ke Palembang.

De Graaf mencatat ikatan tersebut dalam laporan sebagai berikut. “Pada bulan April 1641 Raja Palembang sudah berangkat mengadakan perjalanan ke Mataram …. Dengan kebesaran dan kemegahan, ia diantar kembali ke negaranya, karena armada Mataram yang terdiri dari tidak kurang 80 kapal pengiringnya ke sana”.

Masalah hubungan inilah yang menjadi pertentangan pendapat di kalangan Keraton Palembang saat itu. Seolah-olah adanya kelompok idealis yang masih memerlukan kontinuitas kultural dengan Jawa dan kelompok realis dan pragmatis yang menganggap mereka adalah Melayu-Jawa atau Palembang. Di samping perhitungan kekuatan VOC yang makin kukuh dan mencengkeram menjadi pertimbangan. Atas dasar itu pula Keraton Jambi telah lebih dulu melepaskan ikatannya dengan Mataram.

Kondisi di mana perimbangan kekuatan Mataram dan VOC yang bersaing dan Banten yang masih menjadi ancaman bagi Palembang, serta hubungan dengan Jambi yang kurang serasi karena masalah warisan, merupakan kekuatan luar yang ikut menentukan stabilitas politik ke dalam negeri. Sebaliknya, pertentangan di dalam negeri dengan segala aspeknya membuat penguasa Palembang harus meniti buih dalam menjalankan pemerintahannya.

Palembang akhirnya memang terjerat dalam ketidakstabilan yang menetap akibat gejolak dari dalam dan dari luar. Hanya tokoh yang dapat mengaktualkan dirinya dan membentuk lembaga tradisional yang stabil dan permanen dapat menjadi pemenang dalam gejolak ini.

SITUASI perdagangan di awal kedatangan Belanda di belahan barat Nusantara, khususnya Palembang, Jambi, dan Siak adalah yang bebas dari monopoli yang diperlakukan oleh Aceh dan Banten. Burger mencatat bahwa monopoli lada di Sumatera bagian Utara dipegang oleh Aceh dan di Sumatera bagian Selatan dipegang oleh Banten.

Di antaranya terletak daerah yang tidak berada di bawah kekuasaan kedua kesultanan tersebut, yakni Palembang, Jambi, dan Siak. Sultan Banten berusaha mempengaruhi daerah ini, tetapi tidak berhasil. Orang-orang Jawa, Tionghoa, dan Eropah lebih suka membeli lada di daerah itu karena di sana mereka terlepas dari monopoli perdagangan Aceh dan Banten.

Kondisi di atas dipertegas J.C. van Leur yang menyatakan “Both (Palembang & Jambi) were independent, and oriented to Java rather than tu the Malay Peninsula”. Sebaliknya, perdagangan dalam negeri Palembang dikuasai sepenuhnya oleh golongan bangsawan Palembang, seperti ditulis William Marsden: “The interioer or upland district, on the contrary, are very productive, and there the pepper is cultivated, which the king’s agent (for trade in these parts is usually monopolized by the sovereign power) purchases at the cheap rate, return he supplies the country people with opium, salt, and piecegoods”. Selanjutnya, perdagangan ini dilakukan oleh para kelompok elite Palembang itu di ibukota kepada para pedagang asing, atau mereka sendiri mengirimkannya keluar, seperti dikutip van Leur dari Daghregister 1637 . “In 1637 a pangeran of Palembang sent ten picul of pepper (not quite a single ton) to Batavia in a junk, ‘ going consigned in the hands of one Chinnesse called jucko”.

Kurang jelas bagaimana dengan Raja Palembang itu sendiri, apakah dia terlibat langsung dalam perdagangan seperti Sultan Iskandar Muda dari Aceh atau Sultan Banten. Tapi yang pasti penguasa Palembang ini mempunyai lembaga syahbandar dan fexo seperti dinyatakan P. de Roo de Faille. “Di Palembang, syahbandar sepanjang menyangkut kepentingan raja, harus melindungi pedagang-pedagang dari gangguan rakyat, melancarkan perdagangan dan urusan mereka, dan mengusahakan agar piutang mereka dibayar. Tetapi, menurut kontrak tahun 1681 dan 1722, pedagang-pedagang asing ada di bawah pemerintahan dan peradilan kepala tertinggi Kompeni, dan karena itu, berhentilah hampir seluruhnya pengadilan lama yang dijalankan oleh syahbandar”.

Selain lada, komoditi perdagangan lain yang diekspor Palembang, menurut Pusponegoro dan N. Notosutanto: “Budak-budak yang diekspor dari Palembang ke Malaka (selain beras, bawang putih, bawang merah, daging, arak, hasil hutan seperti rotan, madu, damar, katun, dan sedikit emas dan besi) banyak berasal dari pedalaman”.

Sedangkan Palembang sendiri mengimpor beraneka jenis barang seperti yang dilaporkan W. Marsden: “Pelabuhannya sangat ramai dengan kapal-kapal, kebanyakan dari Jawa, Madura, Bali, dan Sulawesi yang membawa beras, garam, dan pakaian yang dibuat pulau-pulau tersebut. Candu dan barang pecah-belah dari India, komoditi dari Eropah, ditawarkan oleh orang-orang Belanda dari Batavia atau perantaranya”.

Jumlah penduduk Palembang pada saat dikunjungi penulis Portugis Tome Pire (1512—1515), dilaporkan berjumlah lebih kurang 10.000 orang. Tentunya, seabad kemudian jumlah penduduk Palembang lebih banyak dari itu.

Warga Kota Palembang pada abad ke-17 terdiri dari orang Eropah (Portugis), China, Cochin, Kamboja, Sima, Patani, Jawa, Sulawesi, dan kepulauan Nusantara lainnya. Nampak jelas kota ini bersifat terbuka dan internasional.

Mata uang pada waktu itu adalah mata uang kerajaan Palembang yang disebut pitis (uang logam terbuat dari timah hitam dan timah putih bentuknya bulat pipih dengan tengahnya persegi empat). Di samping mata tukar uang yang lain adalah dollar Spanyol.

Dapat disimpulkan bahwa penguasa di Palembang cukup makmur, yang disebabkan oleh jasa dan perdagangannya. Di samping income lain yang didapat dari pajak dan upeti sebagai akibat bentuk pemerintahannya yang tradisional.

Bentuk dan Struktur Politik Ketatanegaraan

Struktur pemerintahan Palembang kalau boleh dikatakan tidak terlalu jauh dengan pemerintahan tradisional di Jawa. Hal ini ditegaskan Schrieke sebagai berikut. “… kerajaan-kerajaan Melayu kecil-kecil yang terletak di pantai yang lama maupun yang lebih baru, yang dalam abad-abad dahulu pada umumnya berorientasi ke Jawa, secara priodik berbakti dan mempersembahkan upetinya kepada Raja Jawa. Maka, lembaga-lembaga Jawa kerapkali secara sadar ditiru di negeri sendiri, untuk mengidentifikasikan dirinya dengan penguasa-penguasa yang tertinggi dan agar mendapatkan kebesaran dan kesemarakan baru karenanya. Merupakan ciri khas pula, bahwa keluarga-keluarga raja biasanya berdarah campuran. Mereka bercampur dengan unsur Jawa atau Bugis.”

Pada awalnya penguasa Palembang memerintah dengan sikap-sikap kompromistis dengan penduduk di pedalaman. Konsep pemerintahan ada Jawa hanya berlaku di pusat pemerintahan, yaitu ibukota (sebagai Negara Agung). Di luar ibukota, apa yang disebut “mancanegara” diatur dengan sikap kompromi atau status quo. Hanya beberapa daerah yang paling lemah dan paling dekat dengan ibukota menjadi kekuasaan langsung penguasa tertinggi di Palembang. Cara pendekatan ke daerah-daerah luar ibukota dapat melalui lembaga perkawinan.

Sikap kompromi dan status quo penguasa Palembang tercermin pada peraturan penguasa, antara lain yang dikenal dengan Undang-Undang Simbur Cahaya dari Ratu Sinuhun, istri Pangeran Sido Ing Kenayan. Simbur Cahaya adalah sekedar pedoman, bukan dimaksudkan menjadi hukum positif. Isi Simbur Cahaya lebih banyak mengatur pergaulan sosial di setiap pedalaman. Menurut penilaian J.W. van Royen , “Sultan-sultan tidak berbuat lain daripada mengukuhkan (vastleggen) hukum adat yang berlaku”.

Sikap-sikap penguasa Palembang ini jelas pula dalam gambaran P. De Roo De Faille yang menyatakan: “Orang-orang Pasemah bukan semata-mata orang bawahan, mereka lebih merupakan kawan-kawan seperjuangan dari Sultan yang dilindunginya, meskipun mereka, seperti terbukti dari Piagam Susuhunan Ratu, telah menerima penjagaan batas (sindang) sebagai tugas dan mengikat diri untuk menaati beberapa peraturan yang menunjuk kepada pengakuan daripada kekuasaannya. Bukan saja orang-orang Pasemah harus berurusan dengan kepalanya sendiri (tidak ada bukti adanya jenang-jenang dari Sultan), tetapi mereka adalah benar-benar kepala rakyat yang bebas, tidak mempunyai kewajiban untuk membayar upeti (mardika): baru kemudian rupa-rupanya kepada sementara di antara mereka diwajibkan triban-tukon sebagai tanda raja.”

Dalam mengatur masalah teritorial ini terkaitlah masalah hak dan kewajiban penduduk, seperti contoh daerah Pasemah di atas, karena teritorial adalah perbatasan kerajaan, yang disebut daerah sindang, maka penduduknya mendapat status mardika (merdeka atau bebas).

Organisasi militer yang reguler dan profesional tidak dipunyai oleh penguasa. Di ibukota Palembang hanya dikenal golongan pengalasan, yang bertindak sebagai pengawal keraton dan punya wewenang sebagai kepolisian. Kelompok ini dibawah komando Pangeran Citra. Tugas lain adalah melaksanakan eksekusi dari keputusan pengadilan di tingkat daerah dan pusat. Hal ini diperkuat P. De Roo De Faille: bahwa raja tidak mempunyai tentara yang teratur (yang dinamakan Korps Grenadier juga termasuk di situ): dalam keadaan darurat tiap orang menurut kemampuannya harus menyerahkan sejumlah bawahannya untuk perang; dan demikian juga halnya dalam armada laut, di mana para pangeran dan pembesar-pembesar masing-masing harus melengkapi beberapa perahu untuk keperluan itu. Hal yang sama terjadi pada pelaksanaan pekerjaan besar”.

Kondisi ini membuat raja sangat tergantung dari bantuan lingkungannya juga kesetiaan lingkungannya, di dalam hal-hal yang positif maupun negatif. Menurut Marsden, dengan kondisi ini kadangkala para priyai tidak mematuhinya.

Pernyataan Marsden di atas menunjukkan sisi kelemahan kerajaan tradisional, yang hanya tergantung kepada kesetiaan, tidak berdasarkan pada mekanisme ataupun struktur organisasi.

Dalam pelaksanaan suksesi tahta kerajaan, pada awalnya Palembang menganut pergantian raja jatuh pada “penerima wahyu”. Jadi, di sini tidak dikenal bentuk “putra mahkota” atau sejenisnya. Ukuran penerima wahyu ini memang sulit ditentukan, tetapi yang jelas tokoh yang paling menonjol dan berpengaruh. Tentunya rasa tidak puas berkembang di samping intrik dan gejolak menjadi permainan di saat pergantian tersebut.

IBUKOTA Palembang sangat strategis dalam kedudukannya di antara pantai terbuka dan sungai-sungai di pedalaman. Sembilan alur sungai besar yang terkenal dengan sebutan “Batanghari Sembilan” dari pedalaman semuanya bermuara di sungai terbesar, yaitu Sungai Musi. Dari sini air dialirkan ke laut lepas ke Selat Bangka. Inilah mengapa peran kota ini memegang kunci atau dengan kata lain sebagai sentral dari segi perdagangan dan pemerintahan. Semuanya dapat dikontrol dari Palembang.

Struktur masyarakat Palembang, terutama di perkotaan dapat dikategorikan sebagai berikut.

  • Golongan Elit/Bangsawan
  • Golongan Rakyat
  • Golongan Budak
  • Golongan Elit/Bangsawan

    Golongan ini adalah pemegang kekuasaan atau mereka yang berada di lingkaran kekuasaan bersama rajanya. Raja memegang kekuasaan berdasarkan “wahyu Tuhan” sebagai dasar kharisma dan legalitas.

    Para bangsawan yang setia mempunyai kesempatan pertama menjadi pembantu dekat raja. Dasar kesetiaan dan kepercayaan ini diimbangi pula dengan orang yang paling dekat (keluarga dan kelompok) dengan raja. Kemungkinan mereka bukan berasal dari golongan bangsawan namun mendapatkan “jabatan” karena dedikasi dan loyalitas kepada raja. Untuk mengangkat “kesetiaan” ini dapat diikat melalui lembaga perkawinan dengan kerabat raja. Kondisi ini menerbitkan lembaga kebangsawanan yang bertingkat atau berjenjang. Jabatan yang bersifat kedinasan dan bukan kebangsawanan adalah demang, ngabehi, dan rangga.

    Hubungan raja dengan para pembantunya, yaitu golongan bangsawan diuraikan dengan jelas oleh Ong Hok Kham. “Biarpun dalam teori raja adalah penjelmaan kehendak Tuhan, namun dalam prakteknya perintah raja tidak dapat demikian saja dituruti dan ditaati oleh rakyat. Dengan kata lain, antara raja dan rakyat perlu ada penghubung. Raja tetap memerlukan aparat, suatu golongan yang di Jawa disebut priyai yang melaksanakan kebijaksanannya atau yang memerintah rakyat. Dijelaskan pula bahwa golongan priyai merupakan para kawula raja yang langsung. Rakyat biasa bukan kawula raja, tetapi tunduk dan takluk pada masing-masing pejabat yang ditunjuk raja. Lembaga yang menampung pejabat atau pemimpin dengan para rakyat termasuk budak adalah gugu(k). Pengertian gugu(k) adalah orang dipatuhi atau panutan. Dengan guguk inilah rakyat merasa terlindungi dan terjamin kehidupan sosialnya. Lembaga ini untuk menghidupi dirinya dan juga sumbangannya bagi Raja Palembang, mereka berproduksi dan berprestasi dalam segala bidang, baik itu industri, kerajinan, pertanian atau perdagangan.

    Kondisi inilah yang sering menerbitkan konflik kepentingan dan persaingan kekuasaan antara raja dan para priyai/bangsawan. Celakanya, meskipun kehidupan keraton menjamin kehidupan enak dan beradab, namun elite ini juga sering bermain politik, yang dalam hal ini sering “bermain” terlalu jauh sehingga dapat membawa bencana. Di sinilah terletak kelemahan kerajaan tradisional yang begitu menekankan ideologi sebagai alat pengawasan tanpa mempertimbangkan alat-alat kontrol konkret lainnya. Dengan sendirinya kelompok atau klik berkembang dalam sistem ini, dalam komunikasi organisai yang tidak baku sehubungan dengan informasi maupun pemerintahan.

    Golongan Rakyat

    Golongan rakyat terbagi dalam 2 (dua) tingkatan yang lebih disebabkan oleh perbedaan antara hak dan kewajiban, yaitu: kelompok miji dan kelompok senan

    Golongan Miji

    Kelompok ini bebas pahjak dan mereka berkewajiban untuk menghimpun orang-orang (keluarga atau kelompok) yang disebut alingan (lindung, dilindungi). Alingan dapat dimobilisasi sewaktu perang, atau tukang ahli (termasuk seniman pengrajin) ataupun di waktu damai. Alingan dan miji ini berlindung atau dilindungi oleh para pangeran/bangsawan. Kewajiban mereka terhadap pelindungnya adalah memproduksi komoditi sesuai dengan keahlian dan kemampuan, yang dapat mendatangkan income bersama dengan pelindungnya. Miji dan alingan berhak untuk pindah ke pelindung yang lebih menjamin kehidupan mereka dalam sistem yang disebut guguk yang jaringannya adalah pelindung—miji—alingan—profesi—domisili. Guguk ini biasanya memiliki profesi atau keahlian khusus seperti pengrajin besi, tembaga, anyaman, dan lain-lain. Berkait dengan sistem guguk tersebut, profesi (keahlian khusus) dan domisili memiliki keterhubungan dengan nama tempat atau domisili mereka. Misalnya, kepandean (pandai besi), sayangan (pandai tembaga), pelampitan (pembuat lampit), dan seterusnya.

    Golongan Senan

    Senan adalah golongan yang lebih rendah daripada miji, dan mereka hanya menjalankan tugas raja. Mereka ditugaskan untuk membuat dan memperbaiki perahu raja, rumah-rumah raja, dan pendayung perahu raja.

    Golongan Budak

    Golongan budak adalah golongan yang paling rendah. Fungsi mereka lebih bersifat komoditi. Budak memang seorang abdi, tapi dapat juga seseorang menjadi budak karena terlibat hutang yang tidak dapat dilunasinya.

    Di dalam berkomunikasi di antara golongan itu dipergunakan dua bahasa, yaitu golongan keraton berbahasa Jawa atau mirip Jawa, atau lazim disebut bahasa Palembang halus (bebaso) sedangkan bahasa penghubung antarpenduduk dan orang asing menggunakan bahasa Melayu dialek Palembang.

    Foto: koleksi (arsip) Djohan Hanafiah

    Hubungan dengan Banten

    http://lemabang.files.wordpress.com/2011/08/57264645cd7427ff1047a550d7dbb149iwn.jpg SETELAH meletakkan dasar pemerintahan tradisional di Palembang, Ki Gede Ing Suro diserbu Pangeran Maulana Muhammad dari Banten (1596). Alasan penyerbuan Banten ini tersebut antara lain atas hasutan Pangeran Mas, seorang pangeran di bekas Kerajaan Demak, yang menginginkan daerah kekuasaan di Palembang sebagai tempat mengembangkan kekuasaannya. Isu yang dilontarkan adalah untuk memerangi kaum kafir di Palembang. Akan tetapi, kemungkinan besar lainnya dalah perlunya Banten menguasai daerah perdagangan dan produsen rempah di luar Jawa, selain Bengkulu dan Lampung yang telah dikuasai Banten.

    Banten memobilisasi armadanya cukup besar, yaitu sebanyak 200 kapal, dengan ribuan pasukan, baik melalui laut maupun darat. Pasukan darat Banten direkrut dari Lampung. Begitu besarnya pasukan ini, mengakibatkan banyak yang mati karena kelaparan. Serbuan Banten hampir saja berhasil menguasai Palembang, akan tetapi terjadilah seperti apa yang diceritakan oleh pedagang Belanda Jacob van Neck: “Pada waktu Pangeran muda gembira duduk bersantap, ditemani para bangsawannya yang terutama, dengan satu-satunya pucuk meriam yang dimiliki kota itu, kepalanya ditembak tercerai dari perutnya”. Peristiwa ini terjadi diatas kapal di sungai Musi. Pangeran Maulana Muhamad menemui ajalnya. Setelah meninggal Pangeran ini bergelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana(Pangeran yang meninggal di pertempuran). Peristiwa ini menyebabkan mundurnya armada Banten dari Palembang. Inilah awalnya dendam Banten terhadap Palembang. Kejadian ini bertepatan dengan kedatangan armada Belanda yang pertama di Banten 1596.

    Sejak tewasnya Pangeran Maulana Muhammad dalam penyerbuannya ke Palembang (1596), menimbulkan dendam dan kekecewaan Banten atas Palembang. Dapat diperkirakan maksud serbuan Banten tersebut, setelah Lampung dan Bengkulu dibawah Banten, maka tinggal lagi Palembang dan Jambi yang belum dikuasai. Hal ini terutama berkaitan dengan monopoli perdagangan lada oleh Banten untuk belahan selatan dan Aceh untuk belahan utara Sumatera.

    Guna mengucilkan Palembang, Banten telah mendekati Jambi. Demikian pula dengan pihak Belanda. Dalam bukunya Djajadiningrat menuliskan: “Banten tak dapat mengampuni Palembang tentang kematian Muhammad. Tak ada sebuah armada Belanda pun yang berlabuh di Banten yang laksamananya berulang-ulang diminta bantuannya melawan Palembang.” Sengketa-sengketa antara mereka sendiri agaknya menjadi sebab, mengapa untuk sementara waktu ekspedisi tersebut gagal sama sekali. Baru kira-kira seratus tahun setelah mangkatnya Pangeran Muhammad, sebuah armada berhasil melayari lautan menyerang Palembang. Tanggal 8 Juni 1606—demikian kita dengar mereka datang kembali tanpa mampu berbuat banyak. Pernyataan permusuhan itu terjadi bukan hanya dari pihak Banten.

    Palembang yang terlalu lemah untuk bertindak sendiri saja terhadap Banten, kira-kira tahun 1626 mengikat satu persekutuan dengan musuh Banten, yaitu Mataram, dan Mataram menawarkan bantuannya menghadapi Banten. Pada tahun 1638 dikatakan bahwa atas perintah Mataram, Palembang akan menyerang daerah-daerah taklukan taklukan Banten, yaitu daerah Lampung. Dan, permusuhan yang satu terhadap yang lain itu tetap terus berlangsung lebih lama lagi.”

    Sebetulnya dari pihak Belanda sendiri untuk memenuhi keinginan Banten tidaklah sepenuh hati, selain pada waktu itu armadanya terbatas, juga kesungkanan Belanda terhadap Mataram, di samping adanya pertimbangan lain seperti ditulis Burger “… karena jika Banten menguasai Palembang, maka monopoli lada Banten akan diperluas.”

    Tetapi, untuk melaksanakan kemauannya Banten hanya berupa provokasi di lautan atas kapal Palembang. Hal ini terlihat pada laporan berikut ini.

    “… ketika Raja Palembang mengirim sebuah kapal dengan utusan luar biasa ke Mataram, ia dirampas oleh kapal Negapatnam di ujung barat Banten. Ini dilakukan atas desakan Raja Banten, yang tentu tidak senang melihat hubungan semain erat antara Palembang dan Mataram (Dagregister, 11 Juli 1633). Masih ada tiga kapal lain yang menyusul, sehingga kapal Negapatnam dikirim lagi ke sana.”

    Hanyalah setelah Sultan Abdulrahman memerintah Palembang, maka Banten menjadi segan dengan Palembang. Meskipun demikian, Palembang tetap waspada dengan Banten, dan tetap membuat pertahanan di batas Lampung, yang dilakukan oleh cucu Sultan Mahmud Badaruddin I, pertahanan mana berupa pertahanan alam yang ditingkatkan kemampuannya, dengan membuat terusan (kanal) di antara Sungai Ogan, Komering, Musi, dan Mesuji. Dengan sistem kanal ini serbuan ke Tulang Bawang di daerah Lampung lebih mudah dan cepat.

    Hubungan dengan Jambi

    Hubungan Palembang dengan Jambi dan Mataram menurut H. J. De Graaf adalah sebagai berikut.

    “Jambi yang berbatasan dengan Palembang, dengan setia mengikuti dari jauh contoh Palembang. Letaknya lebih jauh dari Mataram dan tidak memerlukan sekutu untuk menghadapi Banten. Tetapi pada 1642 kelompok yang memihak pada Mataram merupakan mayoritas. Hendrik van Gent, kepada perdagangan Belanda di Jambi menulis pada tanggal 18 Agustus 1642, bahwa selanjutnya pangeran-pangeran dan pembesar-pembesar Jambi cenderung keras memihak pada Mataram lebih daripada sebelumnya (Bouwstoffen, jld II, hal 115). Juga terdapat suatu persekutuan antara Jambi dan Mataram. Seringkali pangeran yang memegang pemerintahan mengatakan kepada van Gent bahwa ia menganggap pakaian dan bahasa Jawa sebagai hal yang terbaik dan yang paling menyenangkan di seluruh dunia. Di dalam Keraton Jambi, orang tidak hanya menggunakan bahasa Jawa, malah mengikuti mode Jawa. Penduduk pegunungan, jadi orang-orang biasa yang memohon sesuatu kepada raja, tidak lagi berpakaian orang Melayu seperti biasanya, melainkan berpakaian Jawa.

    Banyak prakarsa Palembang yang ditiru Jambi, sepanjang menyangkut hubungan baik dengan Mataram. Usul Palembang mengenai pos diplomatik Belanda diserahkan kepada Mataram dengan perlengkapannya. Dan, ini dipenuhi Jambi, yang kemudian diprotes keras oleh perwakilan Belanda dan menutup perwakilan tersebut tanpa perintah dari Batavia.

    Sebaliknya, utusan kebesaran Jambi ke Mataram tahun 1644 tidaklah memuaskan Jambi atas penerimaan Mataram. Kekecewaan Pangeran Jambi menimbulkan akibat Jambi tidak lagi memihak Mataram sampai menjelang wafatnya Sultan Agung (1646).

    Barulah setelah Amangkurat I naik tahta di Mataram dikirim utusan ke Mataram, setelah didesak Mataram untuk datang ke Mataram. Utusan Jambi datang bersama utusan Palembang pada tahun 1651.

    Pada akhir tahun 1656 kami sekali lagi mendengar utusan-utusan dari Palembang dan Jambi yang berkunjung kepada Sunan Amangkurat (Daghregister, 7 Desember 1656, hal 33-34). Kunjungan mereka memperlihatkan sifat komersil yang amat kuat.

    Menurut catatan R.M. Husin (1937) dan R. H. Abdullah Jambi, hubungan Keraton Jambi dan Palembang cukup erat. Hal ini selain adanya kesamaan sejarah dan tradisi kultur Jawa, juga karena perkawinan keluarga raja. Perkawinan antara putri Ki Gede Ing Suro Muda, yaitu Ratu Mas dengan Sultan Jambi (Sultan Abdul Kahar) telah melahirkan Pangeran Dipo Anom (Sultan Abdul Djalil bergelar pula Sultan Agung. Pangeran ini kawin pula dengan putri Pangeran Madi Angsoko, yaitu puteri pamannya, yang bernama Ratu Mas Depati, sayangnya perkawinan ini tidak melahirkan seorang anak pun. Sebaliknya, dari isterinya yang lain, lahir seorang putri yang menjadi istri Pangeran Adipati (putra Sultan Abdul Rahman Cinde Walang). Putra Sultan Abdul Rahman yang lain, yaitu Sultan Mansyur Jayo Dilago telah memperistri seorang janda dari golongan bangsawan Jambi. Dari perkawinan ini telah lahir dua orang Sultan Palembang, yaitu Sultan Anom dan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo. Seterusnya puteri Sultan Anom, yaitu Raden Ayu Benderang, menjadi permaisuri atau Ratu Ibu dari Sultan Ahmad Zainuddin (Sutawijaya, bergelar Pangeran Rayu Anom Martoningrat, juga bergelar Sultan Mas’ud Badaruddin, yang juga mengambil istri dari Palembang. Demikian juga perkawinan bangsawan lainnya di kedua keraton tersebut.

    Sisi lain dari perkawinan tersebut di atas telah menimbulkan pertengkaran masalah warisan tahta. Jambi juga merasa berhak atas tahta Palembang, tetapi adat Palembang tidak memberikan peluang untuk itu, karena tidak dikenal penggantian dari garis istri. Dua kali pergantian tahta Palembang, yaitu tahun 1627 dan 1636, di mana kedua kesempatan itu terlepas dari Jambi. Malah pada peristiwa pertama, istri Pangeran Jambi di tahan di Palembang oleh kedua pamannya dan Pangeran Jambi diusir. Pada peristiwa kedua mempesulit calon pengganti dari Palembang. Kali ini Pangeran Jambi tidak begitu saja melepaskan kesempatannya untuk menduduki tahta Palembang. Dalam kesempatan ini, Palembang justru menggantungkan masalahnya kepada Mataram. Pada saat penggantian itu, armada Mataram berada di Palembang. Mataram merestui Pangeran Palembang menduduki tahtanya.

    Buat Jambi rupanya peristiwa ini sangat mengecewakan. Akibatnya, sewaktu terjadi perselisihan antara Palembang dan Kompeni, Jambi sama sekali tidak berpihak pada Palembang. Sekalipun Sungai Musi diblokade, di Jambi keadaanya tidaklah demikian. Menurut catatan dalam Daghregister (7 Februari 1659) keadaan perdagangan masupun masalah-masalah penting lainnya di Jambi masih tetap seperti dahulu. Pangeran ingin melihat Batavia tidak membatasi diri hanya pada blokade yang tiada akhirnya, tetapi supaya mengirimkan juga beberapa kekuatan ke darat. Tidak lama sesudah itu orang Jambi bahkan dikabarkan menjadi perantara untuk mencapai kerukunan antara Banten dan Batavia. Diplomasi Jambi menghasilkan perdamaian Banten dan Batavia tanggal 10 Juni 1659.

    Hubungan dengan Mataram

    Hubungan atau ikatan kultural dan tradisonal dengan penguasa Jawa buat Palembang pada awalnya adalah sesuatu yang bersifat mutlak. Hubungan dengan Mataram mencapai puncaknya setelah Surabaya jatuh ke tangan Mataram tahun 1625. Sultan Agung menganggap Palembang sebagai kawulanya, demikian juga Pemerintah Tinggi Belanda menyebut Palembang sebagai kawula Raja Mataram (Daghregister, 4 Maret 1634).

    Palembang merasa khusus tertarik pada Mataram karena kedua kerajaan ini mempunyai musuh yang sama, yaitu Banten. Di samping Palembang semakin harus memperhitungkan kekuatan Kompeni di laut, karena Palembang juga menjual lada pada Kompeni. Pada tahun 1625-16126 Palembang mengirim utusan kepada penguasa Mataram dengan tujuh ekor gajah dan hadiah-hadiah lainnya. Namun, hadiah tersebut tidak diberikan tanpa pamrih. Penguasa Palembang juga menawarkan bantuan kepada Sunan Mataram untuk melawan Banten. Dengan kata lain, mengundang Mataram melawan Banten. Nampaknya ikatan ideologis dan kultural Palembang diremehkan Mataram. Palembang yang setia ini lebih banyak bantuannya kepada Mataram di kala terjadi krisis politik di Mataram, daripada sebaliknya. Misalnya, Palembang telah membantu Amangkurat I melawan pemberontakan Trunojoyo. De Graaf menuliskan:

    “… ada utusan Jawa yang berkunjung ke Palembang, yaitu putra mahkota setelah kekalahannya yang menyedihkan di Gegodog itu (Daghregister, 18 Januari 1677). Permintaan bantuannya dikabulkan: sepuluh kapal Palembang bersama awaknya disediakan untuk Semarang …. Memang pada awal bulan Maret dua pembesar Palembang bersama anak buahnya berangkat ke Jawa untuk membantu Adipati Anom (Daghregister, 23 Maret 1677). Dalam sepucuk surat tertanggal 16 April 1677 kedatangan mereka di Jawa diberitakan oleh Laksamana Cornellis Speelman, tetapi tidak memperoleh sambutan hangat. Sebaliknya diputuskan untuk segera menyuruh mereka kembali pulang dan memberi tahu Pangeran Depati dan Wangsa Dipa-Kepala Daerah Jepara- bahwa orang-orang Palembang tidak bisa diterima. Tanpa menyinggung kehormatan Kompeni, siapapun tidak boleh masuk. Demikian Speelman memandang orang Palembang sebagai orang-orang asing yang mau menyusup ke dalam daerahnya. Ini berarti bahwa pada waktu itupun belum jelas bagi orang Belanda, bagaimana sebenarnya hubungan antara Mataram dengan Palembang. Mereka meremehkan ikatan yang menghubungkan kerajaan yang berada di Sungai Musi dengan kerajaan di Jawa.

    Sebaliknya, krisis politik ataupun serangan dari luar terhadap integritas Palembang diselesaikan sendiri oleh Palembang.

    Serangan dari Banten pada tahun 1596, penghancuran Kota Palembang tahun 1659 oleh Belanda, perselisihan dengan Jambi, hanya dilihat oleh Mataram dari jauh. Keadaan ini tentulah menyebabkan apa yang disebut Taufik Abdullah sebagai “Kemacetan dalam sistem aliansi dan ketidakstabilan dari ikatan pertuanan diselesaikan oleh kebaikan hati VOC”.

    Mataram begitu meremehkan vazalnya, pada akhirnya kehilangan segalanya. Tekanan-tekanan dan gertakan-gertakan yang oleh penguasa Mataram, mengakibatkan penguasa kecil yang menjadi vazalnya berani menghardik kembali, seperti Sukadana. Akhirnya, Sukadana, Martapura, dan Banjarmasin di Kalimantan melepaskan diri dan menghentikan sebahnya ke Mataram tahun 1659 dan 1661. Demikian pula dengan Jambi di tahun 1663. Kejadian semua ini tentu mengakibatkan kemarahan Sunan Mataram. Reaksi Sunan sebagaimana dijelaskan De Graaf adalah sebagai berikut.

    “Pada bulan Juli 1668 masih terdengar desas-desus di Jepara Sunan akan memerangi Raja Kalimantan, dan untuk itu semua pelabuhan besar harus mempersiapkan kapal-kapal perang (Daghregister, 1 Agustus 1668). Baik Jambi maupun Kalimantan akan diperanginya kalau mereka tidak segera datang memberi sembah (Daghregister, 13 Juli 1668). Ketika itu masih hidup anggapan bahwa kedua kerajaan itu masih di bawah kekuasaan Mataram. Tetapi, ternyata pula dari berita ini bahwa mereka sudah lama meninggalkan sikap kepatuhannya kepada Sunan. Mobilisasi pelabuhan-pelabuhan lautnya hanya merupakan gertak sambal sang raja belaka”.

    Nampaknya dalam hubungan dengan Mataram ini, Palembang masih terikat dengan Mataram sampai tahun 1660. Sedangkan Mataram telah mengalami kemundurannya, terutama juga disebabkan kebangkitan kekuasaan Kompeni.

    Menurut De Graaf, tidaklah benar seluruhnya Sunan Amangkurat I mengabaikan Palembang, terutama pada perselisihan Palembang dengan Belanda tahun 1659. Pada akhirnya, ia ingin membenarkan pihak yang pertama (Belanda), sekalipun dalam hati ia mencelanya. Hal ini terbukti dari penyelidikannya terhadap peristiwa tersebut yang dilakukan Tumenggung Pati atas perintahnya. Sudah tentu tugas ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan bijaksana. dalam suratnya kepada pemerintah Kompeni, dengan hormat Tumenggung meminta keterangan mengenai kapal-kapal Kompeni yang direbut oleh Palembang, justru pada saat seluruh Palembang tinggal merupakan reruntuhan puing-puing belaka (Daghregister, 15 Desember 1659). Sudah tentu surat ini tidak membawa hasil apapun. Masalahnya sudah selesai, dan Kompeni menjawabnya dengan pertanyaan kasar dan pongah. Tentu saja hal ini sangat melukai hati Raja Banten, yang biasanya mengenal benar mentalitas tetangganya itu, mengharapkan ia akan membalas dendam atas vazalnya yang kehilangan segala-galanya itu.

    Betapa besar pengaruh kehancuran Palembang itu pada Sunan terbukti dari berita bahwa syahbandar dan kakak Ngabehi Martanata disuruh menuntut kepada Belanda supaya-meriam-meriam Palembang yang dirampasnya diserahkan kepada Sunan. Ini tentu saja akan dirasakan aneh oleh Pemerintah Kompeni yang tidak tahu benar sifat hakiki hubungan antara Palembang dan Mataram itu. Karena itulah, masalah Palembang ini banyak merusakkan hubungan antara Batavia dan Mataram. Tak mungkin menjadi faktor yang menimbulkan perpecahan sementara, dan mengambil bentuk pada penutupan pelabuhan-pelabuhan untuk kedua kalinya.

    Sebaliknya, dari pihak penguasa Palembang, kesetiaan kepada penguasa Mataram tidaklah sepenuhnya diberikan. Pada awalnya di saat pertama kali yang diberikan kepada penguasa Mataram (1625—1626), masih sedikit ada kemurnian,meskipun ada kehendak pembelaan Mataram atas Palembang atas serangan Banten.

    Tetapi, sejak jatuhnya Malaka ke tangan Belanda dari Portugis tahun 1641, Palembang dan Jambi melihat sesungguhnya Belanda lebih superior dari Mataram. Palembang menjadi mendua dalam sikapnya terhadap Mataram maupun Belanda. Pada 20 Oktober 1642 Palembang telah membuat kontrak dengan Belanda, yang isinya adalah: “Kompeni dilarang menyerang pedagang-pedagang asing di Sungai Palembang, tetapi bila di sungai tersebut … dijumpai kapal perang Mataram, Kompeni diperbolehkan menyerang secara bebas” (Heere J.E. “Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum”, Jld II Hal.381-386).

    Kontrak itu dibuat di bawah tekanan Belanda setelah sebelumnya peristiwa penyerangan armada Mataram yang mengawal Raja Palembang pulang dari kunjungan ke Mataram (April 1641). Raja Palembang diiringi 80 kapal armada Mataram, maka dicegat armada Kompeni di bawah pimpinan Jeremias van Vlieth. Dalam pertempuran laut yang membawa korban 400 orang Mataram gugur.

    Sikap tunduk pada Raja Mataram dikombinasikan oleh Raja Palembang dengan pengiriman surat-surat ramah kepada Pemerintah Tinggi Belanda di Batavia (Daghregister, 4 Maret dan 23 Maret 1644) berikut permintaan berulang kali untuk membangun gedung pertahanan Kompeni di Palembang. Di Batavia tawaran ini tidak ditanggapi karena tidak sepenuhnya mempercayai Raja Palembang dan keuntungan-keuntungan yang dimaksud, toh tetap diperoleh tanpa gedung pertahanan itu. Namun, untuk Palembang mungkin sebuah benteng masih dapat dibenarkan “untuk mengguncangkan kesetiaan Palembang yang semu terhadap Mataram” (Instruksi Pemerintah Tinggi Belanda untuk Sersan Mayor La Motte, 29 Mei 1643, Boustoffen, Jld. III catatan pada hal. 140).

    Namun pada 23 Desember 1644 Pemerintah Tinggi Belanda masih terpaksa melaporkan bahwa “korespondensi Palembang dengan Raja Mataram masih berlangsung seperti sediakala” (Boustoffen, Jld III Hal. 201). Menurut De Graaf Sampai a khir masa pemerintahan Sultan Agung, pengurangan pengaruh Mataram di Palembang hampir tidak terasa, meskipun kekuasaan Kompeni di laut lebih besar”

    Demikianlah sikap Palembang terhadap Mataram di mana utusan-utusan dikirim ke Mataram dalam tahun-tahun 1625/1626, 1633, 1641, 1643/1644, 1651, 1656, 1659, 1661, 1663, 1664, dan terakhir 1668. Di samping itu, kontrak-kontrak dengan Belanda terus dibuat dalam tahun-tahun 1641, 1642, 1659, 1662, 1678, 1679, 1681, 1691, 1722, 1755, 1763, 1775, dan 1791.

    Hubungan dengan Kompeni (VOC)

    Pada mulanya VOC menganggap arti perdagangan dengan Palembang relatif kecil dibandingkan dengan Jambi. Oleh sebab itu, perdagangan dilakukan sambil lalu. Persahabatan dengan Palembang dan VOC dimulai tahun 1616. Waktu itu Andries Soury wakil dagang VOC di Jambi telah mengadakan pendekatan dengan raja Palembang dengan mengirim hadiah kepada Raja Palembang melalui utusan Palembang yang berada di Jambi. Response raja Palembang sangat posistip, dia menginginkan hubungan dagang antara VOC dan Palembang. Sayangnya upaya Andries Soury ini terkendala dengan tingkah laku yang tidak baik dari kapal-kapal Belanda terhadap orang-orang Palembang, diantara lain perlakuan kurang terhormat terhadap utusan Palembang ke Jambi. Tentunya tindakan ini mebangkitkan kemarahan Raja Palembang. Akibatnya J.P.Coen sendiri turun tangan pada tahun 1617 dengan mengirim wakilnya, Crijn van Raemburch bersama Andries Soury ke Palembang. Di Palembang mereka diterima dengan baik oleh Rajha Palembang dan juga bertemu dengan Raja Bangka, mertua raja Palembang.

    VOC berharap dapat membeli benzoe, damar, gading gajah, lada dan kayu. Permintaan ini dipenuhi dan hubungan dagang ini dapat berlanjut hingga tahun 1619, dengan upaya menempatkan seorang Assisten, guna memantapkan persahabatan. Dengan demikian dibuat sebuah factory(kantor perwakilan) meskipun hanya diatas sebuah rakit. Factory ini dihapuskan pada tahun 1621 oleh J.P.Coen, karena rencananya ingin menarik perdagangan sebanyak mungkin dalam beberapa pusat-pusat perdagangan. Meskipun factory dihapuskan akan tetapi hubungan dagang tetap berlanjut. VOC menghadapi juga pedagang Belanda non VOC, dikenal sebagai “orang merdeka”, yang menimbulkan banyak kesulitan buat VOC maupun Palembang sendiri. Pada tahun 1622, J.P.Coen mengirim satu perutusan ke Palembang, untuk memperbaiki persahabatan dan penghormatan kepada Raja Palembang serta para pembesarnya, “meminta maaf atas segala kesalahan besar dari orang merdeka yang juga merugikan bangsanya(Belanda)”. Upaya J.P.Coen nampaknya berhasil, sekurang-kurangnya dari luar, akan tetapi ternyata dari bahagian hati Palembang masih memendam “kemarahan”. Hal ini dapat dibaca oleh Coen, dan dia memperingatkan agar orang-orangnya berhat-hati dengan orang Palembang, meskipun nampaknya masih ada persahabatan.

    Sewaktu Andries Soury dikirim oleh Anthonio van Diemin untuk menyerahkan 2 pucuk meriam dan 20 pucuk musquet(senapan) dibicarakan pula mengenai pendirian loji di Palembang. Raja Palembang menyetujui untuk pendirian loji tersebut. Andries Soury juga menyetujui untuk menempatkan 8 pucuk meriam di loji, guna mengamankan gudang tersebut dari perampasan orang-orang Portugis maupun orang Matara ataupun juga para perampok lainnya, yaiutu orang Palembang dan orang Belanda sendiri. Syahbandar Palembang pada waktu seorang Portugis bernama Valerius Gentill. Terhadap orang ini VOC menginstruksikan kepada Andries Soury untuk lebih bersahabat. Ternyata Palembang pada waktu banyak memakai tenaga Portugis dibidang perdagangannya, termasuk juga Pasqual Rodrigues d’Andrade sebagai utusan Palembang ke Batavia(Dag-register 1640-1641, hal.273)

    Mengenai loji itu sendiri dalam perkembangannya bagi pedagang (koopman) yang tinggal di Palembang tahun 1619-1621 maupun penggantinya yang tinggal di Palembang sesudah tahun 1637 sampai 1680 sudah harus puas dengan tempat mereka di atas rakit dengan gudang terapung. Baru setelah tahun 1710 perdagangan dengan VOC meningkat karena timah di Bangka ditemukan dan digali. Sedangkan pedagang Inggris hanya bertahan 3 tahun di Palembang (1636-1639). Arti perdagangan yang kecil ini pada waktu itu bukan disebabkan oleh perekonomian yang tidak baik, tetapi hasil lada di Palembang relatif lebih kecil dibandingkan Jambi.

    Menurut J.W.J. Wellan, kondisi ini di satu pihak disebabkan oleh kurangnya lada, di lain pihak karena besarnya sikap kesadaran dari raja-raja Palembang yang tidak membenarkan dipaksa oleh orang-orang asing. Dalam tahun 1659 kesombongan ini agak ditekan VOC, sebagai hukuman merusak 2 kapal VOC, mengambil ibukota dan membakarnya. Tetapi, tidak sesudah itu mereka dapat memperbaiki kekalahannya dan Palembang tetap sebagai suatu daerah yang selalu harus dihormati. Berbard H.M. Vlekke menceritakan bagaimana sikap raja dan VOC: “Sementara itu Belanda membatasi aktivitas mereka di Sumatera dalam hubungan dagang yang secara teratur, khususnya dengan Kesultanan Jambi dan Palembang. Dengan kedua kesultanan ini, sangatlah tergantung dengan kebaikan (goodwill) para penguasa”.

    … bangsa Belanda tidak terjamin mengadakan perdagangan secara monopoli di kedua pelabuhan tersebut. Sultan-sultan itu bertindak sebagai perantara (intermediaries), antara penanam lada di daerah dengan pedagang-pedagang asing. Tentu saja keuntungan penguasa sangat besar akibat persaingan di antara pedagang-pedagang asing tersebut. Oleh sebab itu, senjata utama VOC untuk melawan permintaan (demands) berkelebihan pangeran-pangeran setempat adalah ancaman untuk memindahkan pos perdagangan mereka ke pelabuhan-pelabuhan lain dan menyatakan untuk memblokade pantai Sumatera. Usaha ini tentunya sangat memakan beaya dan akibatnya kedua belah pihak biasanya menyelesaikannya secara kompromi.

    Akan tetapi, setelah hampir setengah abad kemudian, Jeremias van Vlieth telah berani memaksa Raja Palembang untuk membuat kontrak (1642) yang memberikan kebebasan bagi VOC untuk “menghajar” armada-armada Mataram di perairan Palembang. Kontrak ini dibuat setelah armada Mataram digempur lebih dulu dan tragisnya setelah armada tersebut bertugas mengantar kembali Raja Palembang dari kunjungan ke Mataram. Inilah awal kekurangajaran VOC terhadap Palembang. Semua ini dapat terjadi setelah tahun 1595, Corneulis de Houtman dan para penerusnya dapat menghalau dan mengatasi saingan-saingannya bangsa Eropa lainnya dari Nusantara. Juga kegagalan Banten dan Mataram menjepit Batavia, jatuhnya Malaka dan dikuasainya daerah dan perdagangan di Maluku.

    J. P. Coen (1612-1623) telah menyampaikan gagasannya di depan Dewan Terhormat VOC, Gentlemen Seventeen, pada 22 Oktober 1615, “But my opinion we cannot exist in the Indies without authority and power, mingled with agreeable apposite means and reasoning” (Colenbrander, Coen Jld I, hal. 128). Memang Kompeni mempunyai kelebihan pada kekuatan militernya, yaitu kekuatan pada meriam-meriam besar dan mobilitas tinggi dari pasukannya. Di samping itu “… berangsur-angsur Kompeni memperluas kekuasaan kenegaraan untuk mengawasi apakah persetujuan-persetujuan yang diadakan raja-raja Indonesia ditaati yang di antaranya menyebabkan penyerahan daerah kepada Kompeni. Dengan demikian, Kompeni, kecuali mendapatkan pengaruh ekonomi, juga mendapatkan pengaruh yang besar”.

    Hal ini mudah diperoleh Kompeni karena “… VOC dengan lekas dapat mengetahui bahwa bagi bangsa Indonesia penggantian mahkota oleh keturunan raja sangat dipentingkan. Karena itu, VOC untuk kepentingannya juga, senantiasa membantu raja-raja yang sah dan orang-orang yang mempunyai hak atas mahkota. Itulah sebabnya maka kepentingan dinasti dari raja-raja dan kaum bangsawan sering bersamaan dengan kepentingan VOC. Karena itu, umumnya kedudukan dinasti dan keuangan raja-raja dan kaum bangsawan diperkuat oleh Kompeni. Dengan perluasan daerah serta pengaruh ketatanegaraan, maka VOC makin lama tumbuh “dari pedagang menjadi raja”, penyerahan wajib mengubah corak perdagangannya menjadi penarik pajak.

    Menurut Burger kekuasaan Kompeni di daerah-daerah belumlah dapat dinamakan penyelenggaraan pemerintahan umum. Kekuasaannya terutama terbatas pada penuntutan penyerahan wajib dari para penguasa Indonesia, mengangkat pegawai-pegawai ini dan mengawasi mereka dalam melakukan kewajiban-kewajibannya terhadap Kompeni. Seperti telah disebutkan baik oleh pelaksana-pelaksana maupun penasehat-penasehat VOC, seperti J.P. Coen (1614) di Banten menyatakan sikap bahwa senjata-senjata harus diperoleh dari keuntungan-keuntungan yang dihasilkan perdagangan, dan bahwa perdagangan tidak dapat dipertahankan tanpa perang, seperti juga perang tidak dapat dipertahankan tanpa perdagangan.

    Demikian juga yang diucapkan Cornelis Buysero dua tahun kemudian (1616) di Banten bahwa bukanlah benteng-benteng yang memberikan kita keamaan di Asia, tetapi yang paling menentukan adalah kekuatan di laut, sementara dengan bantuan Tuhan kita selalu menguasainya.

    Semua pikiran di atas menurut Boxer terjabar pada: “Dalam bulan Desember 1650 VOC seluruhnya memiliki 74 kapal di Asia. Mungkin nampaknya hal ini tidak begitu mengesankan, tetapi nyata ini lebih banyak daripada yang dimiliki oleh saingan-saingan mereka orang Inggris, Portugis, dan Spanyol. Tambahan lagi, kapal-kapal VOC lebih dipersenjatai dan mungkin melakukan manuver, dan karena itu lebih hebat daripada yang dimiliki negara Asia manapun, entah India, Indonesia, maupun Cina”.

    Joan Maetsuyker pada paruh kedua abad XVII memegang kekuasaan Gubernur Jenderal VOC (1653—1678). Ia adalah seorang pribadi yang sangat kontroversial. Sebagai GG ia berkuasa paling lama dibanding GG pertama Pieter Both dan GG terakhir di Indonesia, Stachouwer (1941). Pada zamannya VOC berada di puncak kejayaannya. Pendeta dan sejarahwan VOC, Francois Valentijn (1667—1772) menamakannya “rubah licik dan lihai” dan “seorang jesuit”. Orang Cina di Batavia mengejeknya sebagai “orang yang tengkar dan tidak menyenangkan sifatnya, hingga rakyat kelas bawahan tidak berani melewati pintunya. Bila ada pun orang yang hati-hati demikian, mereka akan dihukumnya”.

    Adapun kegagalan-kegagalan pribadinya di mata Heren XVII, kecakapan administratif dan birokrasinya jauh mengatasi hal-hal ini. Kepercayaan mereka yang tiada goyah padanya, mungkin pula disebabkan oleh kenyataan bahwa ia jauh lebih menghargai pendapat-pendapat dan perintah-perintah mereka daripada beberapa orang pendahulunya yang keras kepala.

    Foto: koleksi Djohan Hanafiah (museum Belanda)

    APA yang telah ditulis, dikutip, dan dirangkaikan dalam halaman-halaman terdahulu adalah serangkaian data dan fakta dalam kerangka untuk memberikan gambaran “permainan” (game), aturan main, lawan bermain, dan lapangan permainan bagi penguasa Palembang untuk mengaktualkan dirinya dan menegakkan integritas negaranya dari balik tembok Kuto Gawang. Dari peristiwa perang Palembang yang pertama melawan Belanda tahun 1659, menurut terminologi Belanda merupakan suatu hukuman buat Palembang, dapatlah kita menguakkan semua aspek di atas.

    Sepanjang lebih dari 100 tahun keraton Jawa di tepian Sungai Musi yang dinamakan Kuto Gawang mengalami pasang surut bagaikan aliran sembilan sungai besar yang ditampung oleh Sungai Musi. Keraton dengan kuto (tembok) setinggi kurang lebih tujuh meter terdiri dari balok-balok kayu (kayu besi dan unglen). Luas dan bentuknya bagaikan persegi empat, yaitu dengan panjang dan lebar kurang lebih 1.100 meter. Dari kanan kuto tersebut diapit oleh Sungai Lintah dan Sungai Buah. Di tengah kuto, sebagai pintu adalah Sungai Rengas. Kuto ini diperkuat 3 bastion dengan meriam-meriam (lihat kembali peta yang dibuat Joan vVander Laen, sebelum dibakarnya habis tahun 1659). Penduduk tinggal di sisi kanan-kiri kuto tersebut, sedangkan orang-orang asing di seberangnya, kira-kira di Kompleks Pertamina Bagus Kuning sekarang.

    Secara alamiah Palembang terlindung oleh Pulau Borang dan Pulau Kembaro. Rentang sungai di daerah Pulau Kembaro dan Plaju dipagar dengan cerucup kayu sebagai “tembok sungai”. Arus lalu lintas diatur melalui sisi Pulau Kembaro dengan daratan di samping Kuto Gawang. Benteng pertahanan diletakkan berhadapan antara Pulau Kembaro dan Plaju, ditambah lagi dengan benteng terapung di balik “tembok sungai”. Sistem pertahahan ini terus berlanjut sampai tahun 1821, saat terakhir Sultan Mahmud Badaruddin II menahan serangan besar-besaran dari Jenderal De Kock.

    Tahta: Kemelut Keluarga yang tak Berkesudahan

    Setelah Ki Gede Ing Suro Mudo menyerahkan kekuasaannya kepada putra tertuanya Ki Mas Adipati, maka secara bergilir tahta ini dipegang putra-putra lainnya. Secara bergilir pula kematian-kematian tidak wajar melanda putra-putra ini. Dari pihak wanitanya dikawinkan dengan penguasa Jambi, baik putri Ki Gede Ing Suro Mudo maupun cucunya. Pada saat adanya kesempatan pada pihak wanita ini untuk mewarisi tahta Palembang, mereka ditolak, karena menurut mereka tidak teradatkan wanita menduduki tahta, atau tahta tidak diberikan pada pewaris garis ibu. Logikanya kalau memang hal ini sampai terjadi, maka Raja Jambilah yang akan berkuasa di Palembang. Akan tetapi, adat ini pada saat lain tidak berlaku di kala Pangeran Seda Ing Pasarean mengambil tahta. Ibunya Nyai Gede Pembayun adalah putri Ki Gede Ing Suro Mudo, tetapi ayahnya “orang luar” yaitu Tumenggung Manco Negaro (Apakah nama ini nama sebenarnya atyau hanya ejekan untuk sebutan orang luar, yaitu manco negara). Pangeran Seda Ing Pasarean berkuasa tidak cukup satu tahun dan dia mewariskan tahta ini kepada anaknya Seda Ing Rejek dan dari sini dialihkan pula kepada saudaranya Ki Mas Endi yang bergelar juga Raden Tumenggung, dan terakhir memakai gelar Sultan Abdul Rahman.

    Wajarlah dalam perkembangan keluarga ini paling tidak ada dua kelompok besar, yaitu yang merasa punya garis murni Ki Gede Ing Suro dan yang bukan. Belum lagi kelompok kecil dan klik yang merasakan sebagai pewaris-pewaris yang sebenarnya. Akhirnya, Ki Mas Endi dalam mencapai kedudukannya sebagai penguasa Palembang selanjutnya tentu pula selain berhadapan dengan kekuatan di dalam keluarga ini, juga kekuatan luar yang ikut berperan, yakni Jambi, Mataram, dan VOC. Hal lain yang patut dicatat pula bahwa ia memulai pemerintahannya di atas puing-puing dan debu asap Palembang yang dihancurkan Belanda. Sebuah perjuangan yang sangat menguras tenaga dan pikiran.

    Di Balik Kisah Penghancuran Kuto Gawang

    Kisah dibakar habisnya Palembang (baca: Kuto Gawang) pada tahun 1659 oleh Belanda, bermula dengan kehadiran wakil dagang VOC bernama Cornelis Ockersz pada 22 Februari 1658. Menarik untuk dikaji peran Ockersz tersebut apakah dia yang menjadi penyebabnya, ataukah sebenarnya dia sengaja “dikorbankan” sebagai penguat alasan untuk meredam, bahkan menghancurkan kekuatan Palembang.

    Kedatangan Ockersz ke Palembang disebabkan wakil perdagangan VOC yang lama, Anthony Boey tidak dapat melaksanakan tugas karena jatuh sakit. Untuk itu, VOC menunjuk Ockersz yang sebelumnya dicadangkan untuk diangkat di Jambi menggantikan Jacob Nolpe. Akan tetapi, pangeran dan bangsawan Jambi menolaknya. Dengan surat resmi bertanggal 15 Januari 1657, Pangeran Jambi menyampaikan keberatan terhadap Ockersz mewakili VOC di Jambi. Mereka menghendaki asisten Jan Wissingh, juru tulis Nolpe, untuk menggantikannya. Ockersz dianggap penguasa Jambi tidak menyenangkan, selain mempunyai reputasi yang tidak baik di kawasan Sumatera.

    Pemerintah Batavia dapat menerima penolakan penguasa Jambi tersebut. Ockersz tidak ditempatkan di Jambi, ia diganti Pieter de Goijer, sehingga Ockersz ditempatkan di Palembang. Mengapa sampai dipaksakan Ockersz ditempatkan di daerah Sumatera di mana orang-orang sulit menerimanya? Inilah yang disebut Boxer sebagai akibat permainan. “Baik Heren XVII maupun Mahkamah Pengurus terus juga melakukan banyak pengangkatan pada masing-masing dinasnya di Asia berdasarkan koneksi keluarga, pengaruh, dan patronase”.

    Jadi, tak heran bila begitu sinisnya penguasa Palembang terhadap Ockersz sehingga dijuluki “si kapiten panjang” (jangkung).

    Tanggal 22 Februari 1658 adalah kunjungan pertamanya ke Palembang dalam melaksanakan tugasnya. Tugas pertama ini telah mengalami kesulitan dalam pelaksanaan kontraknya. Tak berapa lama bertugas, pada 9 Juni 1658 Ockersz kembali ke Batavia melaporkan hasil tugasnya di Palembang.

    Ockersz kembali ke Palembang tanggal 25 Juni 1658 sekaligus membawa kapal Jacatra. Kedatangannya ini menerbitkan peristiwa bentrokan yang gawat. Dia menahan beberapa kapal tidak jauh di hilir kota, sebelum keraton. Di antara kapal yang ditahan itu milik putra mahkota Mataram. Tembak-menembak terjadi. Beberapa peluru jatuh di kota dan istana. Seorang Jawa terluka berat dan dua penduduk luka ringan. Kemudian orang Belanda tersebut menyeret sebuah jung asal Kamboja yang bersandar di depan keraton. Orang-orang Palembang mencegahnya dengan memotong tali jung tersebut. Ockerszn mencoba mencegah tindakan orang-orang Palembang tersebut dengan menembaki kota dan jung tersebut. Pada akhirnya insiden ini dapat diselesaikan dengan damai.

    Menerbitkan pertanyaan kita, siapa yang mengambil inisiatifnya dan bagaimana caranya? Menurut laporan Van der Laen dua bulan sebelum kedatangannya Pangeran Palembang telah mengirimkan dua orang utusan ke Johor untuk meminta bantuan, meskipun masalah insiden itu telah diselesaikan. Di samping itu, Pangeran Palembang masih menyimpan dendam pada Anth. Boey yang telah meremehkan pangeran dengan membakar kapal Cina Quinamer, padahal telah mendapat izin pangeran untuk berniaga ke Palembang. Akibatnya, Boey merasa terancam jiwanya dan tidak kembali lagi ke Palembang. Juga pangeran telah merasakan bahwa si Kapiten Panjang akan bertindak semaunya melebihi pendahulunya. Mungkin saja ia “akan segera mengibarkan bendera merah, sambil berkata: apa peduli Pangeran Palembang” (suratnya kepada seorang Cina di Batavia, 9 Juni 1659).

    Perdamaian insiden Ockersz diadakan secara kebesaran, ditingkah dengan tetabuhan dan bunyi-bunyian. Ockersz dihadiahi tombak dan keris serta diangkat sebagai Tumenggung dan diberi gelar sebagai “Putera Pangeran”. Di balik itu, tanggal 22 Agustus 1658 beberapa orang bangsawan Palembang menaiki kapal “De Wachter” yang akan bongkar sauh, dan mereka menemui Ockersz. Di saat itulah tanpa ada kesempatan Ockersz dihujam dengan keris, selanjutnya terjadilah “penjagalan” di atas kapal itu. Tercatat 42 orang terbunuh, 28 orang ditawan, yang tidak lama kemudian menyusul 3 orang meninggal, 24 orang lainnya melarikan diri ke Jambi. Kapal Jacatra dan de Wachter dirampas.

    Sungguh ironis sekali, baru dua bulan Ockersz mendapat kebesaran dan kemudian dibunuh. J. Vander Laen menuduh pembunuhnya adalah Tumenggung dan putra Pangeran. Terbit pertanyaan, mengapa Ockersz harus dibunuh? Mengapa tidak dibunuh pada saat insiden berlangsung, justru ia dibunuh pada saat damai, di mana dia telah dianggap putra Pangeran? Belanda menganggapnya sebagai perbuatan khianat dan pengecut bagi Palembang. Mengapa pula Tumenggung yang dituduh oleh Belanda?

    Kuto Gawang Digempur Habis-habisan

    Peristiwa pembantaian orang Belanda tersebut segera diterima Batavia. Johan Truijtman bersama beberapa kapal dikirim ke Palembang. Dia ditugaskan untuk beberapa hal, yakni:

    1. memberi tekanan kepada Palembang dengan blokade lalu lintas pelayaran;

    2. mengadakan perundingan dengan Pangeran Palembang:

    a. supaya paling tidak memberikan ganti rugi

    b. pembebasan para tawanan

    c. pulihnya kembali hubungan yang lama

    Perundingan dilakukan tidak secara langsung, tetapi secara surat-menyurat. Dua buah surat Pangeran Palembang disampaikan kepada Truijtman tanggal 15 dan 29 Desember 1658, dilampiri juga surat dari tawanan Jacob de Graff dan ahli bedah Mr. Isaach. Pangeran menyetujui pemulihan hubungan, “tetapi tetap mempersalahkan si Kapiten Panjang sebagai biang keladinya, sedangkan Batavia tidak melakukan kesalahan apapun, ……..tetapi Kapten Panjang itu sendiri saja yang salah, itulah sebabnya Pangeran memerintahkan supaya ia dibunuh.”

    Sementara itu Jambi yang tidak senang dengan Palembang, melihat peluang ini sebagai suatu yang menguntungkan bila VOC langsung saja menyerbu Palembang, tidak dengan hanya blokade, demikian pernyataan Pangeran Jambi ke VOC(Dagregister , 7 Februari 1659).

    Selagi perundingan tersebut berlangsung, pertempuran tidak tercegah dan berlangsung. Guna mengatasi rintangan-rintangan dari kapal-kapal Belanda, maka orang-orang Palembang memanfaatkan kedua kapal rampasan mereka sebelumnya. Kedua kapal itu digerakkan dengan dayung panjang dan ditarik oleh sejumlah perahu kecil. Kiranya kedua kapal itu akan ditabrakkan ke kapal-kapal Belanda yang menghadang. Sebaliknya, dari kapal-kapal Belanda tersebut dimuntahkan peluru-peluru meriam dan senapan dengan gencar, sehingga upaya pihak Palembang menemui kegagalan. Untuk meredakan pertempuran ini, Pangeran Palembang mengirimkan tawanannya Isaach kepada Truijtman, sedangkan yang lainnya tetap ditawan. Misi Truijtman tidak membuahkan hasil yang berarti.

    Setelah mengalami kebuntuan, pada 7 Oktober 1659 dari Batavia Belanda memberangkatkan satu armada besar di bawah komando J. Vander Laen. Nyatanya Palembang tidak dapat ditekan dan digertak, provokasi kapal-kapal perang Truijtman sebelumnya tidak membuat Palembang gentar.

    Armada Van der Laen sekain kapal Orangie sebagai kapal komando, terdiri dari 3 yacht, 2 chialoup, 13 buah kapal berbagai bentuk dan ukuran lengkap dengan peralatan perang, serta melibatkan 700 orang serdadu infanteri berpengalaman, dengan 600 orang pelaut. Jumlah pasukan VOC adalah sangat besar, termasuk berkelebihan. Karena kalau menurut jumlah kota Palembang pada waktu itu paling banyak 10.000 orang(angka ini membandingkan jumlah penduduk tahun 1821 sebanyak 25.000 orang). Pemberangkatan armada ini pada tangal 19 Oktober, diberkati doa oleh para pendeta dan dimintakan selama tugas armada ini, pada saat kebaktian umum dipanjatkan doa kemenangan, sehingga pangeran Moor (Islam) lainnya di sekitarnya akan menjadi takut (Daghregister, 18/19 Oktober 1659).

    Pada tanggal 4 November 1659 armada ini sampai di Palembang setelah 17 hari melawan gelombang laut. Empat hari kemudian serangan dimulai. Serangan ini disambut meriah oleh tembakan-tembakan Pulau Kembaro, Plaju, dan Bagus Kuning. Betapa sengitnya perlawanan yang dilakukan oleh ketiga benteng tersebut, kenyataannya memang kekuatan senjata tidak berimbang. Ketiga benteng itu hanya memiliki 73 meriam. Satu per satu benteng terdepan jatuh dan jalan ke Kuto Gawang pun terbuka.

    Secara frontal seluruh armada Belanda yang ada menghantam Kuto Gawang. Tembok lemah menjadi bobol, dan dari sini dimulailanya pertempuran satu lawan satu berlangsung. Serangan yang membabi buta membuat pangeran dan pengikutnya menyingkir ke pedalaman. Akhirnya, apa yang didapat Belanda dalam benteng Palembang tersebut adalah mayat-mayat tawanan Belanda yang terhujam keris. Luapan kemarahan Belanda dilampiaskan dengan penjarahan dan pembakaran habis Kuto Gawang. Tiga hari lamanya pasukan Belanda baru dapat membumihanguskan Kuto Gawang. Sebanyak 73 meriam dari tembaga dan besi, 150 alat penembak dari tembaga, senapan-senapan dan peluru dirampas. Korban kedua belah pihak sangat banyak. Kapal Jacatra tenggelam dan kapal De Wachter terbakar.

    Kemenangan ini dirayakan di Batavia dengan meriah. Lonceng-lonceng berbunyi, meriam-meriam berdentum, api unggun dari pek menyala-nyala di jalan-jalan. Sedangkan di Gereja Agung doa syukur dipanjatkan.

    Penyerangan Kuto Gawang menurut versi Johan Nieuhoff

    Di dalam bukunya “Voyages & Travels to the East Indies 1653-1670” ditulis Johan Nieuhoff, menceritakan peristiwa Peneyerbuan Belanda ke Kuto Gawang adalah sebagai berikut:

    Beberapa tahun yang lalu salah satu kota yang terpenting di Sumatera adalah Palembang, yang terletak dekat pantai barat (seharusnya timur) Sumatera, yang pada tanggal 24 November 1659 dibakar habis oleh Laksamana dan jenderal John Van der Laen, karena penduduknya kira-kira dua tahun sebelumnya telah menyerang mendadak dengan tipu daya dua kapal yacht Belanda yang bernama Jakatra dan Watchman dan membunuh seluruh awak kapal dengan kejam; dan pada tahun berikutnya telah memenggal kepala dua orang Belanda yang dikirim ke darat dari kapal Niccoport dan Leerdam (sebelumnya namanya Texel) yang bertugas sebagai penterjemah. Atas perintah dari Orangkay (Orang Kaya = pembesar Palembang), kepala mereka ditancapkan pada dua ujung tombak dan dipertontonkan kepada kawan-kawan mereka yang berada di atas kapal.

    Armada Kapal Belanda dikirim ke Palembang

    Untuk membalas dendam pembunuhan yang biadab ini, suatu satuan kapal-kapal yang terdiri dari sebelas kapal berangkat dari Batavia pada tanggal 19 Oktober 1959, dibawah pimpinan Laksamana John Van der Laen dan John Truytman Wakil Laksanama, yaitu kapal-kapal: Orangie sebagai kapal Komando yang ditumpangi Laksamana, Postilion, Molucco, Arms of Batavia dan Charles, tiga kapal galleot yaitu Appletree, Hourglass dan Hammebiel, kapal-kapal chaloops yaitu Crab, Tronk dan Flying Dear, diawaki oleh 600 orang pelaut dan 700 orang tentara darat. Pada tanggal 30 Oktober mereka tiba di muara sungai Palembang (Musi) tanpa kecelakaan yang berarti dan bertemu dengan kapal-kapal yacht Bloemendahl, Koukerk, dan Cat dan dengan kapal-kapal chaloop Cony dan Koelong yang sedang berlayar disekitar perairan itu.

    Kapal-Kapal Tiba di Muara Sungai Palembang (Musi)

    Pada hari yang sama mereka melihat dua kapal Cina yang sedang berlayar menuju Jambi, lalu kapal-kapal Cina ini ditahan sampai armada kapal Belanda memasuki sungai dan pada tanggal 3 November dengan dikawal oleh kapal chaloop Tronk meneruskan pelayarannya menuju Jambi. Kapal-kapal Belanda memasuki sungai dengan urutan sebagai beriktu: Pertama Arms of Batavia, berikutnya Postilion, kemudian kapal yacht Bloemandahl yang ditumpangi Laksamana yang pindah dari kapal Orange dimulut sungai; kapal yacht Koukerk yang ditumpangi Wakil Laksamana, kapal yacht Cat, kapal chaloops yang besar Crab; setelah itu menyusul tiga galleots, Hourglass, Apple-tree, Hammebiel; kapal-kapal Charles dan Molucco berada paling belakang. Kapal-kapal chaloops lainnya diperintahkan mengawal kapal yang ditumpangi Laksamana. Tanggal 3 dan 4 November dilewatkan orang-orang Belanda ini untuk memasuki sungai. Pada tanggal 9 malam tanpa diduga-duga mereka diserang oleh beberapa orang Palembang, dalam penyerangan ini empat atau lima orang Belanda terluka, komanda-komandannya tak punya cukup waktu untuk siap-siaga.

    Kapal-Kapal Mendekati Kota dalam Jarak Pandang

    Pada tanggal 10 mereka telah maju antara pulau Cambara (Kembaro) dan pantai seberangnya, dalam jarak pandang dari kota Palembang, dimana mereka menemukan tiga buah benteng musuh; yang pertama dinamakan Bamangangan, terletak di bagian darat sugai diseberang pulau Cambara, dua lainnya letaknya disebelahnya dinamakan Mathapoura (Martapura) dan Menapoura (Menapura). Waktu kami pertama muncul musuh berdiam diri didalam benteng-benteng mereka, ini memberi semangat kepada kami untuk masuk lebih jauh ke hulu dengan kapal-kapal kami.

    Membakar Rakit Api Musuh

    Tetapi beberapa rakit besar, dimana diatasnya dibangun rumah yang diisi dengan bahan-bahan yang mudah terbakar, diapungkan diarus sungai, Kapten Jurian Paulson diperintahkan dengan beberapa kapal dan yacht Hour-glass untuk memeriksa rakit-rakit itu, memotong tali-talinya dan membakarnya, setelah tindakan ini dilaksanakan maka seluruh armada maju ke depan untuk menyerang benteng Bamangangan. Tetapi setelah kami mendekati dalam jarak tembak meriam, musuh memberikan kepada kami salam yang sangat hangat melalui tembakan-tembakan meriam besarnya dari benteng-bentengn baik dari sebelah timur maupun sebelah barat, walaupun tanpa kecurigaan yang berarti pada pihak kami, ini memberikan semangat yang cukup bagi kami untuk menembak dengan segencar-gencarnya kearah benteng yang pertama dengan keberhasilan sedemikian rupa sekaligus menghancurkan sebagian besar dari benteng itu dan semua rumah-rumah yang ada disekitarnya.

    Benteng Bamagangan Diserang

    Setelah ini kapal-kapal yacht Bloemendahl, Koukerk dan Cat diperintahkan lego jangkar dalam jarak tembakan pistol dari tepi pantai, dari jarak mana kami menghancur-leburkan msuh , kedua-duanya menggunakan meriam besar dan meriam kecil, kemudian kami mendarat dan meguasai benteng tersebut, dimana kami temukan 22 buah meriam dari besi dan dari perunggu, lalu secepatnya meriam-meriam ini kami balik arahkan ke mush di sebelah darat dan melanjutkan pertempuran sepanjang malam, ini merupakan tindakan siaga yang tidak sia-sia, karena tak lama kemudian mush menyerang kami dengan sangat gencar, dengan harapan untuk dapat merebut kembali benteng itu, tetapi dapat dipukul mundur dengan gagah berani, dengan kehilangan hanya seorang di pihak kami.

    Rakit Api Ukuran Besar

    Kemudian musuh mengirimkan empat atau lima rakit api yang sangat besar yaitu rakit dari kayu yang diatasnya ada rumah-rumah yang diisi dengan bahan-bahan yang mudah terbakar lebarnya hampir seluruh lebar sungai. Kapal-kapal yacht Bloemendahl, Koukerk dan Cat dengan susah payah menghidari api, terpaksa memotong tali temalinya, tetapi kapal Molucco terbakar anjungan bagian depanya dan dengan susah payah dapat diselamatkan atas bantuan beberapa kapal yang dikirim untuk menolongnya, tanpa menderita kerugian yang berarti. Rakit-rakit api ini dibawa arus kearah hilir dan tak lama kemudian habis terbakar mengeluarkan asap yang tebal. Dalam perebutan benteng tersebut 30 orang Jawa terbunuh, diantara mereka adalah Quevy (Kyai?) yang tua, Tommagen (Tumenggung?), Nadapen Radia (Natadiraja?) dengan dua anak laki-lakinya, yang dimakamkan keesokan harinya.

    Benteng Mathapoura Direbut

    Tanggal 11 pagi-pagi kami juga menyerang benteng Mathapoura, dimana kami hanya menemukan 4 pucuk meriam,musuh telah membuang 4 lainnya kedalam sungai, yang kemudian kami ambil lagi; sisa hari itu dihabiskan untuk mengangkut arteleri dan mesiu yang dapat kami rampas.

    Pulau Cambara Direbut

    Delapan kompi prajurit juga didaratkan pada sore hari itu ke Pulau Cambara untuk menyerang benteng disana, tetapi secara mengejutkan benteng pertahanan ini telah ditinggalkan oleh pasukan yang mempertahankannya. Kami menemukan disini 12 pucuk meriam, beberapa diantaranya telah dibuang kedalam lumpur, tetapi diambil kembali oleh orang-orang kami, dan dinaikan ke atas kapal-kapal beserta jumlah kecil mesiu. Pada waktu penyerangan terhadap pertahanan Palembang ini berlangsung, musuh berhasil membakar yacht Watchman dan pada malam hari mereka yang telah meninggalkan benteng berusaha tiga kali untuk merebut kembali benteng tersebut dibawah lindungan hujan lebat. Dalam pertempuran ini pihak kami kehilangan dua orang mati dan enam orang terluka, dan kami dipaksa bertahan dengan senjata siap ditangan sepanjang malam. Tanggal 12 dan 13 dilewatkan untuk menaikan meriam dan mesiunya yang kami dapat dari 3 benteng tersebut. Setelah selesai, dalam keputusan yang diambil oleh majelis peperangan, segera dilakukan penyerangan terhadap daerah pemukiman Cina, dan dengan demikian membuat kami untuk dapat menguasai kota, sebelum musuh mampu memulihkan tenaganya kembali darikekuatan akibat kekalahan yang diderita dalam perebutan benteng-bentengnya. Lalu waktu kami berlayar melintasi kota, kami menerima penghormatan yang sama seperti diterima dari benteng-benteng sebelumnya (ditembaki dengan meriam) tetapi tanpa kerugian yang berarti atau kehilangan salah satu kapal kami.

    Benteng Palembang

    Kota Palembang diperkuat dengan perbentengan dari poko-pokok kayu yang ditancap rapat satu sama lain, diatasnya dipasang sejumlah besar meriam, sehingga kelihatannya tak mungkin direbut dengan jumlah pasukan yang terlalu kecil, karena selain itu dikeliligi dengan parit yang dalam dan berlumpur. Kami mengalami keseulitan untuk menemukan tempat pendaratan yang aman, sampai akhirnya Laksamana setelah melakukan pengintaian ke arah bagian terjauh dari benteng, ada sebuah anak sungai kecil yang menuju suatu tempat dimana tampaknya kami tidak dapat terjangkau atau sedikit sekali kemungkinan tertembak meriam musuh, kami mendaratkan seluruh kekuatan kami disitu, dan maju dengan berani menuju lubang-lubang sarang meriam musuh, tentara kami melemparkan granat melalui lubang-lubang itu kedalam kota yang menyebabkan rumah-rumah didekatnya terbakar, musuh ketakutan dengan serangan ini, sehingga meninggalkan posnya, dengan demikian memberi kesempatan kepada Laksamana Van Der Laen, kepada Wakil Laksamana Truytman dan Kapten Harman menembus masuk benteng kedalam kota melalui tiga macam-macam jalan.

    Penyerangan dan Pendudukan oleh Belanda

    Disini mereka menghadapi perlawanan yang gagah berani dari penduduk, yang sesuai dengan adat negaranya mengamuk diatas kematian 3 orang, membunuh 18 orang, diantaranya seorang Letnan, seorang Bintara Laut, dan seorang Sersan tetapi tanpa kekalahan yang lebih besar di pihak mereka; hujan lebat yang turn memaksa Laksamana Belanda ini untuk menarik kembali pasukannya ke atas kapal-kapal malam itu, tetapi keesokan harinya pasukan mendarat lagi dan melalui jalan yang sama masuk kedalam kota dimana terjadi pertempuran yang tak berarti, sampai akhirnya penduduk tak dapat menahan serangan dan terpaksa menyingkir ke lapangan terbuka di luar benteng kota. Yang pertama kali dibakar adalah istana raja, setelah dikosongkan dari semua benda-benda berharga, dan sejumlah besar meriam-meriam yang dibiarkan oleh raja dan pengikut-pengikutnya dirampas oleh Belanda setelah mereka bertahan untuk beberapa waktu dalam pertempuran satu lawan satu. Setelah Laksamana Van der Laen meletakkan dua orang pemimpin yang terbunuh yaitu Quey Nameys (Kayi Ngabei?) dibawah kakinya maka lainnya melarikan diri karena ketakutan. Menarik perhatian bahwa orang-orang Palembang nampaknya memberikan suatu perlakuan khusus kepada meriam-meriam besar mereka, yang kami temukan dibungkus dengan kainwarna ungu dilapis Ramboutins (?) dan dibakari kemenyan, sehingga baunya membekas lama dijari-jari kami. Laksaman memerintahkan untuk mengeluarkan seluruh arteleri dan meriam-meriam dari dalam kota dan dari tempat lain, ia juga memeritahkan untuk membakar habis kubu-kubu pertahanan dan rumah-rumah didekatnya.

    Limabelas orang Belanda dibunuh di dalam kota

    Kami menemukan 15 dari 21 orang kami yang ditawan orang Palembang, didalam penjara yang terletak didua sisi istana, dibunuh secara meyedihkan, diantaranya adalah Jacob de Groot. Seorang anak laki Belanda yang tak dirantai mendapat nasib baik dapat melepaskan diri, lain-lainya dibawa keluar kota. Untuk membalas dendam sebesar-besarnya atas kekejaman ini, apa-apa yang masih tersisa dari kota dibakar habis dan dihancurkan, setelah semua meriam dan barang rampasan lain diangkut kedalam kapal-kapal. Tanggal kejadianini adalah 6 November 1959.

    Kegagalan rakit api musuh

    Pada waktu yang sama musuh mengirmkan rakit apinya, yang sangat besar kehilir sungai, rakit api ini terdiri dari 20 buah rumah yang dibangun diatas rakit dari kayu, yang melebar hampir selebar jarak ke dua tepi sungai. Tetapi secepat Belanda melihat rakit api ini, mereka mengirim perahu-perahu panjangnya yang diawaki dengan baik, yang mengatur agar kapal-kapal terhindar ari rakit api ini dan setelah rakit-rakit api ini dilewatkan menghindari kapal-kapal, mereka bakar dideapn musuh-musuhnya, yang membakar habis selain rakit-rakit itu, juga banyak sekali rumah-rumah yang berada dipinggir sungai. Pada tanggal 17 dan 18 orang-orang kami masih sibuk menaikkan rampasan perang, arteleri dan meriam-meriam dan hari untuk merayakan terima kasih atas kemenangan ini ditentukan pada tanggal 23. dalam pada itu kami berlayar terus kearah hulu untuk mencoba mencari apakah kapal-kapal atau perkebunan diarah itu, tetapi tak menemukan apa-apa. Tuan John Van der Laen dan John Truytman juga menulis surat kepada Pangeran datau Gubernur Palemabng, yang disampaikan tanggal 23 oleh seorang tawanan Cina dan seorang wanita tua. John Van der Laen bersenjata Belanda sekarang ada di sugai dan negara Palembang mengirimkan surat kepada Pangeran dan semua pimpinan dewan negara Palembang.

    Sepucuk surat dikirimkan kepada Pangeran

    Isinya:

    Tanpa mengabaikan keberhasilan kami, kami tak dapat lain kecuali meminta perhatian paduka mengenai pembunuhan yang jahat sekali yang dilakukan oleh rakyat anda terhadap banyak orang –orang yang tak berdosa yang bekerja untuk V.O.C perbuatan biadab itu, meskipun sangat dicela oleh Gubernur Jenderal dan Anggota Dewan Hindia yang bermukim di Batavia, namun untuk menunjukkan kecendrungan mereka untuk meneruskan hubungan damai dengan paduka, mereka telah melakukan tindakan pada waktu itu untuk mencegah pertumpahan darah manusia, menyaratkan dan sebenarnya menuntut anda untuk memperbaiki kesalahan atas kebiadapan yang betul-betul belum pernah terdengar sebelumnya itu secara wajar. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka (Gubernur Jendral dan Anggota Dewan Hindia) mengarahkan agar usulan tertentu dibuat oleh John Truytman kepada paduka dengan perintah yang tegas untuk merangsang paduka untuk dengan segala alasan yang dapat mengarahkan kepada tercapainya tujuan itu, yang kami tidak ragu-ragu niscaya telah cukup diyakini (dimengerti) oleh Paduka, jika seandainya anggota Dewan anda yang jahat tidak mengecohkan anda, dan mencampakkan keinginan baik anda. Akan tetapi dengan melihat bahwa anda menganggap remeh syarat-syarat itu, dan sangat lambat memperbaiki kesalahan tersebut dengan semestinya, Tuhan Maha Besar Seru Sekalian Alam yang sangat murka terhadap tindakan anda, telah mengarahkan hati Yang Mulia Gubernur tersebut dan anggota deannya untuk mengangkat senjata yang merupakan tindakan koreksi satu-satunya alternatif yang masih mereka punyai, sesuai titah Tuhan yang maha kuasa untuk dengan adil melindungi rakyatnya. Tuhan yang maha besar telah berkenan merestui tindakan untuk melakukan hukuman setimpal dengan tindakan rakyat anda yang jahat. Meskipun demikian mereka (Gubernur Jenderal dan dewan nya) mau memberitahukan paduka, bahwa apermusuhan yang dilakukan terhadap anda dan rakyat anda, telah dilakukan dengan maksud tidak lain daripada untuk menuntut bela atas darah rakyatnya yang tidak berdosa dan mencari kedamian yang terhormat dan wajar. Gubernur beserta anggota dewannya yang selalu condong kepada damai daripada perang, jika paduka sependapat, kami mengharapkan mendengar dari anda baik melalui surat untuk menjawab surat ini atau melalui wakil-wakil anda. Itulah penyataan kami untuk keperluan apa kami berada di wilayah kekuasaan paduka dan kemurahan-kemurahan hari yang kami berikan ini akan merupakan paspor yang cukup untuk mereka yang akan paduka utus untuk berunding dengan kami.

    Diberikan di atas kapal Bloemendahl tanggal 20 November 1959.
    Ttd,
    John Van der Laen,
    John Truytman.

    Armada Kapal Belanda Berlayar ke Hulu

    Pada tanggal 25 kapal-kapal kami berlayar lebih jauh menuju hulu, dan kadang-kadang melihat tiga atau empat tongkang yang digunakan untuk ferry penyeberangan dan beberapa rumah dibangun diatas rakit terbuat dari kayu; tongkang-tongkang tersebut tak dapat ditembak, karena jaraknya melebihi jarak tembak kami, dan kemudian berlindung masuk anak-anak sungai diantara semak-semak. Rumah-rumah tersebut dibakar, lalu kami kembali tanggal 26 dan lego jangkar di depan benteng sampai hari berikutnya. Dalam pada itu Peter de Goyer direktur dari Factory Belanda di Jambi, megirimkan pada tanggal 11 November dari Jambi melalui kapal chaloop Tronk, 75 ayam jantan kebiri, 100 ayam betina muda dan lima kambing untuk keperluan tuan John Vander Laen dan komandan-komandan lainya; itu semua dapat diperoleh, semua bahan makanan sangat sukar didapat di sana pada waktu itu, kerena Pangeran Adrogory (Indragiri?) dan Raja Muda Johor baru-baru ini tinggal selama tiga bulan dengan disertai 2000 orang didarah ini dan tak lama sebelumnya banyak sekali ternak dan unggas yang disembelih untuk menyelenggarakan pesta perkawainan anak perempuan raja muda yang dijodohkan dengan Patuan Muda.

    Surat Pangeran Jambi kepada John Van der Laen

    Laksamana dan Kapten Truytman menerima jawaban dari Pangeran Jambi atas suratnya tertanggal 20 November yang dimasukkan dalam surat lain, yaitu surat dari Tuan Peter Goyer tertanggal 26, terjemahan dari Bahasa Melayu sebagai berikut. Surat ini dikirim dari hati yang jujur, dari Pangeran Jambi untuk Komandan John Vander Laen dan Daman Sitia Bauwa (dimaksud Kapten Truytman) ialah tokoh-tokoh yang mashur dalam kebijakan dan keberaniannya. Pangeran yang mengerti bahwa tuan John Maetzuicker Gubernur Jenderal dari V.O.C. telah mengirimkan 18 kapal melawan Palembang merasa tepat untuk menyatakan bahwa perasaanya cocok dengan perasaan Gubernur dan siap untuk menyetujui semua tnapa sedikitpun pertentangan apa yang akan dilakukan oleh Tuan Maetzuicker tersebut, meyakinkan kepada tuan Van Der Laen dan daman Sittia Bauwa bahwa ia akan berdiri kokoh kepada janji-janji ini atau lainnya yang telah dibuat oleh Pangeran sebelumnya. Meyusul pernyataan ini seterimanya surat, Pangeran juga mengingatkan sebelumnya dan memerintahkan John Van De Laen dan Daman Sittia Bauwa untuk siap siaga kerena kekuatan Palembang ada didekatnya; ini semua adalah apa yang Pangeran perintahkan pada saat ini kepada John Van de Laen dan Daman Sittia Bauwa.

    Armada Belanda kembali ke Batavia

    Pada tanggal 27 semua rumah-rumah yang masih berdiri dekat benteng Mathapoura bersama-sama dengan benteng itu sendiri dibakar atas perintah khusus dari Laksamana dan pada hari yang sama kami mengangkat sebuah meriam besar dari dalam rawa-rawa di pulau Cambara. Dan mungkin karena sifat-sifat yang keras kepada atau karena putus asa Pangeran Palembang tidak mengirikan untusannya atau menjawab surat kami tertanggal 20 November, kami memutuskan untuk meninggalkan sungai dan dengan pasang berikutnya mengembangkan layar dan kembali melalui cabang sungai yang namanya Banjarmassum (Banyuasin?) untuk dapat membakar semua rumah-rumah dan perkebunan yang kami temui, tetapi dengan telah memakan waktu 5 hari, yaitu sampai tanggal 3 Desember dalam pelayaran ke arah hilir. Kami menemukan kapal Orange dimuara sungai lalu bergabung dengan yang lain-lain, kami meneruskan pelayaran pada tanggal 4 Desember dan tiba dengan seluruh armada dan pasukan pada tanggal 9 sore hari di Batavia. Barang-barang rampasan kami terdiri terutama 75 pucuk meriam besar dengan 142 pucuk meriam yang kecil sebagian diantaranya terbuat dari besi. Kami tak menemukan lada di sini; tetapi persediaan besar beras dan padi semuanya itu dilalap oleh api, demikian juga sejumlah besar kapal-kapal kecil diantaranya adalah kapal-kapal pesiar raja yang jumlahnya banyak, beberapa buah dibawa oleh anak buah kami yang akan disimpan sebagai souvenir untuk peringatan terhadap kejadian ini.

    Foto: Koleksi Djohan Hanafiah (museum Belanda).

    About Iwan Lemabang

    Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

    Posted on January 6, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: