Debit Musi Turun 2 Meter

Debit Musi Turun 2 Meter
Surut: Tampak sejumlah anak kecil bermain di pinggiran Sungai Musi depan plaza Benteng Kuto Besak (BKB). Turunnya debit air Musi ini ternyata berdampak pada kualitas air untuk kehidupan sehari-hari

PALEMBANG — Musim kemarau yang melanda Sumsel mulai menurunkan debit air Sungai Musi. badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palembang mencatat, level debit air Sungai Musi mengalami penurunan dua meter.

Meski begitu, diakui Kabid Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan BLH Palemban, Nivrian Fadillah, kualitas air Musi masih cukup layak untuk konsumsi. Turunnya debit ini juga belum menggangu aktivitas penyeberangan kapal.

AdanyA penurunan air Musi ini sendiri baru diketahui awal Juni lalu. “Kalau musim kemarau hingga Agustus atau September, maka debit air Sungai Musi biasanya surut hingga empat meter,” bebernya.

Diakuinya, meski masih layak konsumsi, namun tetap saja terjadi penurunan kualitas air, terutama karena pengaruh sembilan parameter yang menentukan baku mutu air, BOD, COD, phenol, tembaga, besi dan lainnya. Hal itu disebabkan limbah usaha kuliner tercampur ke dalam air sungai. “Kondisi anak sungai juga sudah agak kering tapi kalau pasang laut kondisinya kembali normal,” ucap Novrian.

Sebelumnya, kata Novrian, pihaknya mencatat ada 30 rumah makan yang belum mengoptimalkan sistem pengelohan limbah. “Dari 100 rumah makan, hanya 30 rumah makan yang punya sistem pengolahan limbah. Pengolahan limbah pun belum optimal karena para pengusaha tidak melakukan perawatan secara instensif,” terang dia.

Ditambahkannya, sejauh ini aktivitas kapal penyeberangan rute Palembang-Muntok (Bangka) belum terganggu karena karena kedalaman Sungai Musi masih 19 meter. Sementara batas minimal air sungai yang bisa dilalui kapal sekitar 10 meter. “Kalau kedalaman sungai masih 15 meter atau bahkan minimal 10 meter, masih bisa dilewati kapal,” imbuhnya.

Terpisah, Direktur Teknik Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Musi, Stephanus mengatakan, saat ini kondisi air Sungai Musi memang mengalami surut yang cukup banyak. Kendati begitu tidak terlalu mempengaruhi aktivitas penyedotan air baku ke intake untuk kemudian diolah di Instalasi Pengelohan Air (IPA) menjadi air bersih.

Pasalnya, penyedotan air baku mengikuti pola pasang surut air Sungai Musi. “Air Sungai Musi pasang malam hari, maka kami menyedot dan mengalirkannya ke IPA pada malam hari pula. Sedangkan distribusi air bersih ke pelanggan memang siang hari karena penggunaan air malam hari sangat sedikit,” jeasnya.

Meski begitu harus diakui surutnya air Musi mempengaruhi biaya produksi yang harus dikeluarkan PDAM Tirta Musi. Pihaknya harus memberikan obat air lebih banyak untuk menjaga kualitas air tidak menurun dan tetap layak konsumsi pelanggan.

“Secara produksi jelas merugi. Pengolahan air yang disedot saat ini memerlukan obat air lebih banyak dari kondisi biasanya saat air Musi tidak surut seperti sekarang. Tingkat kerumahnya lebih tingi. Sementara itu, pendapatan kita tetap,” bebernya.

Dikatakan Stephanus, saat ini level air Sungai Musi masih sama beberapa hari sebelumnya, yakni di titik maksimum dua meter dari titik air baku. Sementara kondisi normal mestinya di atas 3,5 meter. “Berkurang 1,5 meter, sejauh ini mash cukup aman. Tapi jika levelnya sudah minus, maka terhitung krisis dan pastinya akan berpengaruh besar terhadap produks dan kualitas air baku,” tukasnya. (yun/ce2)

Sumatera Ekspres, Kamis, 4 Juli 2013

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on July 4, 2013, in Palembang and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: