Gitar Tunggal Batanghari Sembilan

Gitar Tunggal Batanghari Sembilan
Sahilin maestro irama Batanghari Sembilan

Profesi dan Seni Pertunjukan
Satu persatu penumpang kereta api (KA) Serelo Jurusan Lubuklinggau-Palembang, merogoh kantong. Sekeping uang logam lima ratusan atau sehelai uang kertas ribuan ‘mampir’ ke kocek lelaki paruh baya yang dengan cekatan mendendangkan tembang berirama batanghari sembilan.

Suaranya jernih tapi sahdu mendayu dan enak didengar telinga. Syairnya lucu menggelikan. Gitarnya sederhana tapi petikannya itu membuat iri kita yang mendengarnya. Sesekali penumpang tersenyum geli. Kadang tertawa ngakak dan bertepuk tangan. Lain waktu diam dan hening seketika menyimak syair penuh makna.

Siang itu penumpang KA memang bejibun. Maklumlah, ini bukan kelas bisnis atau VIP, tapi ekonomi. Murah dan terjangkau kantong semua orang. Tak heran jika yang menjubeli KA kebanyakan para pedagang sayur, petani dan wirausahawan kecil. Mereka bukan cuma berasal dari Lubuklinggau dan Musirawas, tapi dari berbagai daerah di Sumsel. Mereka naik dan turun dari stasiun pemberhentian.

Lahat, Muaraenim dan Prabumulih. Sedikitnya tiga stasiun inilah mereka naik. Ada yang cuma membawa badan, melenggang kangkung kata orang. Ada yang tampak kepayahan mengangkut barang bawaan. Mereka tergopoh-gopoh mencari tempat duduk. Tak kebagian kursi mereka bentangkan tikar di lantai besi.

Ada yang nyeletuk, ada pula yang pura-pura tidur dan macam-macamlah. Tapi juga ada yang entah terpaksa atau tidak rela memberikan ‘sedekah’ uang seadanya. Namun uniknya, ketika seorang pengamen tunggal menyenandungkan irama batanghari sembilan, penumpang seolah terjaga dari rasa kesal, capek dan gerah.

“Ini baru enak,” komentar mereka, kira-kira ketika sang pengamen piawai memainkan senar dengan tenang, cekatan serta lucu menggembirakan. Aplus diberikan, tepuk tangan serentak di’sematkan’.

Kebanyakan dari penumpang merasa puas dengan suguhan hiburan murah meriah itu. Berbagai pujian dilontarkan. Karena hiburan semacam itu bagi mereka yang jarang menumpang KA, merupakan barang langka. Dengan satu gitar, seorang penyanyi sekaligus pemetik gitar, mampu membius ratusan penonton yang siang menjelang sore itu basah oleh keringat dan rasa kantuk.

Ya, gitar tunggal telah memukau penumpang KA. Tapi tahukah anda teknik memainkannya? Secara teoritis, teknik memetik gitar tunggal batanghari sembilan umumnya pentatonis (bertangga nada lima). Petikannya dominan memanfaatkan melodi bas (senar 4,5 dan 6). Setiap kali ganti lagu, acapkali pemusik nyetem (menyetel) gitarnya sehingga menghasilkan irama yang berbeda.

Dari delapan nada dasar pada gitar, kerap hanya mengandalkan lima nada. Nada-nada itu dipadukan secara pentatonis, mirip gamelan atau ketukan perkusi yang ritmis dan agak monoton, baik melogi maupun harmoni.

Adalah hanafi dari jurusan Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang, Sumbar, yang mengamati lagu-lagu batanghari sembilan yang dibawakan Sahilin, menjelaskan bahwa permainan gitar Sahilin memang unik.

Pada lagu Nasib Muara Kuang misalnya, ia bermain pada metrum (satuan irama yang ditentukan oleh jumlah dan tekanan suku kata dalam setiap baris puisi) yang berbeda-beda. Metrum awal mempunyai hitungan 4, pada bagian-bagian tertentu ia memainkan gitar oada hitungan 6 dan 10. Bahkan ada yang muncul pada hitungan ganjil, seperti hitungan 5.

Menurut Hanafi, yang sempat survei bersama Philip Yampolsky dari Ford Foundation, dalam lagu-lagunya, Sahilin tidak mau terikat dengan pola-pola berirama konvensional. Sahilin bermain gitar dengan mengikuti frase-frase melodi yang pada dasarnya memiliki metrum berbeda walaupun pada bagianb awal dinyatakan dengan hitungan 4 atau metrum empat perempat (4/4).

Era keemasan gitar tunggal diperkirakan sekitar tahun 1960 dan 1970-an sezaman dengan era keemasan musik rock di Barat. Kala itu masyarakat biasa menikmati petikan gitar tunggal pada malam hari setelah lelah bekerja seharian.

Sebelum tahun 1070-an, di tanah Besemah, salah satu cara bujangan (pemuda) untuk pedakate terhadap seorang pujaannya (tentu saja perempuan), melalui gitar yang dipetik sambil melantunkan bait-bait pantun. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam hari.

Suara petikan gitar yang khas ini menjadi media untuk memanggil sang pujaan hati (gadis). Bahwa ia datang untuk beghare (silaturahmi seorang atau beberapa bujang dengan seorang gadis untuk pendekatan hati).

Pantunnya, di antaranya berbunyi: Dudol ancaw dikecap kuday/beghase anyam ngulang pule/datang ke sini andun niday/ amun boleh aku beghusik malam kele. Perpaduan bait pantun yang dilagukan dengan sound petikan gitar tunggal yang khas itulah yang dinamakan rejung.

Musik dan lagu batanghari sembilan lewat petikan gitar tunggal umumnya bersifat melankolis. Hal ini terkesan erat dengan struktur masyarakatnya yang memiliki rasa persaudaraan, hubungan kekeluargaan dan kecintaan akan kampung halaman.

Musik ini memiliki irama yang meliuk-liuk dengan lirik berupa pantun bersahut yang panjang dan bersambungan. Mirip panjangnya aliran sungai. Saat ini lagu batanghari sembilan bukan cuma untuk bersenandung melepas kepenatan hidup atau merayu sang pujaan, tapi sebagai suatu profesi dan seni pertunjukan.

Pertunjukan musik batanghari sembilan kadangkala menampilkan satu dua penyanyi yang melantunkan pantun bersahut dengan iringan petikan gitar tunggal (E.K Pascal, “Gitar Tunggal: Warna Batanghari Sembilan”, Majalah Kebudayaan Musi Terus Mengalir, Edisi April 2008). (aminuddin) Sriwijaya Post – Minggu, 6 Maret 2011

Berawal dari Dusun Jambabale, Pagaralam

Gitar Tunggal Batanghari SembilanSahilin : Umak-umak belikan sagu/aku kepingin makan pempek/umak-umak carikan aku/aku nilah malas tiduk dewek

Siti Rahmah : Lemak pule makan pempek/ambek sagu buat tekwan/daripada tiduk dewek/lemak sekalilah meluk bantal

(Gitar Tunggal Batanghari Sembilan Sahilin dan Siti Rahmah)

————————————————–

Menurut Sahilin, pemetik gitar tunggal profesional Sumsel, istilah batanghari sembilan mulai dikenalkan oleh Djakfar Marik dari Dusun Jambabale, Pagaralam. Musik dan lagu batanghari sembilan diperkirakan berakar dari rejung (pantun/sastra tutur di Besemah, salah satu wilayah batanghari sembilan). Pada mulanya rejung tidak menggunakan instrumen musik tradisional sebagai alat pengiring bunyi. Ia hanya dituturkan dengan irama yang khas.

Salah satu contohnya adalah Baju kurung kancing tige/ditunde ngambang selangis/kalu urung ancaman kite/alangkah panjang karang tangis/kalu ade berenay dampung/tegak ambangan mareduwe/kalu ade sungai nak nyumping/suke selangis pancar duwe. Mengiringi perjalanan waktu, rejung mulai diharmomisasikan dengan alat bunyi perkusi sederhana terbuat dari bambu (getuk, getak- getung), kulit binatang (redap) dan terbuat dari besi (gung, kenung).

Instrumen rejung bertambah lagi dengan alat bunyi tiup yang terbuat dari bambu (seredam), besi (gunggung) bahkan ada yang terbikin dari daun (carak). Alat musik modern; gitar, akordion, terompet, biola mulai dikenal menjadi alat pengiring musik batanghari sembilan diperkirakan sejak bangsa Barat masuk ke Sumsel.

Budayawan Ahmad Bastari Suan berujar, istilah gitar tunggal dalam konteks batanghari sembilan relatif baru, diperkirakan muncul sekitar tahun 1950-an. Sebelum muncul istilah ini, dikenal dengan Petikan Dawi. Dawi nama pemetik gitar tunggal yang berasal dari daerah Besemah. Penyebutan gitar tunggal karena biasanya diiringi satu alat petik (gitar akustik), tidak ada alat musik yang lain, sebutan gitar tunggal pun akhirnya dilekatkan.

Konsep atau istilah batanghari sembilan mengacu ke wilayah, adalah sebutan lain dari Sumbagsel (Sumsel, Jambi, Lampung dan Bengkulu minus Pulau Bangka) yang memiliki sembilan sungai (batanghari) bermuara ke Sungai Musi.Batanghari dalam beberapa bahasa lokal di Sumsel, misalnya bahasa Rambang (Prabumulih) berarti sungai. Bersinonim dengan kali (jiwa) atau river (sungai).
Pada perkembangan selanjutnya, batanghari sembilan juga bermakna budaya yaitu budaya batanghari sembilan, di antaranya adalah musik dan lagu batanghari sembilan. Salah satu genre seni musik atau lagu daerah yang berkembang di Sumsel.

Saat ini, seniman yang pernah dan masih setia menekuni seni ini bisa dihitung dengan jari, di antaranya Wayah, Isran, Rasnawati, Buchori, Discik, Syafrin, Emilia, Asnadewi, Rusli Effendi, Armin, Arman Idris, Jefri, Paul dan Sahilin.

Lain kata, generasi seniman batanghari sembilan, terutama gitar tunggal, kian hari kian sedikit. Saat ini pelestari dan penjaga musik ini umumnya kaum tua, sedangkan kaum muda memposisikan batanghari sembilan sebagai musik yang sudah ketinggalan zaman dan susah di-download secara emosional dan teknik.

Minat mempelajari batanghari sembilan dari kalangan muda juga rendah. Hal ini bisa dilihat dari sedikitnya pemusik yang menekuni musik dan lagu ini. Masyarakat Sumsel belum banyak yang tahu tentang kekuatan dan kelebihan musik batanghari sembilan. Mereka belum punya suatu gambaran utuh tentang musik dan lagu ini.

Walaupun mereka pernah mendengar alunan petikan gitar tunggal. Karena itu, dibutuhkan suatu pemahaman musik batanghari sembilan melalui fonografi misalnya. Salah satu grup musik di Sumsel yang tengah mempelajari, meneliti dan mengusung konsep lagu-lagu daerah/etnik (warna musik batanghari sembilan) dengan tetap mengandalkan kekuatan sound khas petikan gitar tunggal adalah Orkes Rejung Pesirah yang terbentuk pada awal tahun 2008 lalu.

Agar tetap hidup dan berkembang, E.K Pascal menyarankan penggarapannya disesuaikan dengan keperluan sentuhan seni pertunjukan. Ini berarti perlu proses kreatif seniman musik mengembangkan dan membuka peluang terhadap batanghari sembilan yang mempunyai pola melodi atau ritme melankolis ini.

Mereka diharapkan dapat mengisi bagian-bagian dalam komposisi warna musik baru yang lebih dinamis tanpa meninggalkan roh dan kekuatan warna batanghari sembilan. (aminuddin) Sriwijaya Post – Senin, 7 Maret 2011

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on September 10, 2013, in Budaya. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: