RTH Hanya 18 Persen

RTH Hanya 18 Persen
Indah: Bebrapa jenis tanaman dan bunga menghiasi taman kota di Bundaran Cinde, menjadikan kawasan ini lebih indah dan asri

PALEMBANG — Kota Palembang makin cantik dan asri. Taman pada Bundaran Cinde, tempat bertenggernya tugu entrepreneur dihiasi beragam bunga. Ada yang kuning, hijau dan merah tua. “Wah, indahnya,” begitulah komentar banyak pengendara yang melintas di jalanan padat kendaraan tersebut.

Mempercantik taman kota menjadi bagian dari upaya pemerintah kota (pemkot) menambah ruang terbuka hijua (RTH) kota Metropolitan ini. Sesuai UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang RTH, minial luas RTH itu 30 persen dari luar wilayah. “Saat ini keberadaan RTH di Palembang hanya sekitar 18 persen,” ucap Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K), Herrey Hadi.

RTH di Palembang selain Hutan Wisata Punti Kayu, yakni taman-taman kota yang terus diperbanyak jumlahnya. Tak hanya itu, pihaknya juga melakukan program konservasi taman asli Palembang. Tujuannya tak lain untuk menggalakkan kembali penanaman tumbuhan dan buah-buahan yang menjadi ciri khas kota pempek ini.

“Kami sedang menginvestasikan dan meneliti lokasi sebaran (poplasi) pembibitan yang masih ada tanaman tersebut di Sumsel,” ujarnya. Program konservasi ini untuk mendukung ketersediaan RTH 30 persen twrsebut.

Konservasi juga dilakukan untuk melestarikan tanaman khas Sumsel, khususnya Palembang karena populasinya makin sedikit. Di antaranya, tanaman bintaro, srikaya, ketapang, keranji, salam, trembesi, pulin, tembesu, bunga cempako telok, dan lainnya.

Nantinya, ucap Harrey, tumbuhan khas itu akan ditanam pada beberapa titik oleh Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD). “Kami akan memberikan bantuan bibit kepada SKPD untuk menanam tanaman asli tersebut. Diharapkan, kegiatan ini akan diteruskan dan menjadi stimulan semua SKPD di lingkungan Pemkot Palembang dan juga ditularkan ke masyarakat,” imbuh Harrey.

Wali Kota Palembang, H Romi Herton SH MH, mendukung penabahan RTH. “Kami akan memulai gebrakan dengan menanam sejuta pohon. Bayangkan saja, jika pohon tembesu dapat dibibtkan, satu batang bisa menghasilkan dua kubik. Bagaimana kalau satu juta bibit yang ditanam,” bebernya.

Ditambahkannya, bunga cempako telok sebagi salah satu bunga khas Sumsel yang patut dilestarkan. Selain indah, bunga ini juga memiliki bau yang harum. “Nah, kalau satu rumah ada satu bunga ini, maka lingkungan tidak hanya indah, tapi masyarakat Palembang juga mendukung terciptanya RTH yang sekarang masih minim,” cetusnya.

Orang nomor satu di lingkup Pemkot Palembang ini menyatakan, pembibitan bunga dan pohon asli dari Palembang dapat pula meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Program konservasi ini juga mendukung kesiapan Palembang menyambut penilaian Adipura. “Ruang ramah lingkungan akan bertambah dan ini menciptakan keramahan bagi warga Palembang dan pendatang yang datang,” tukas Romi. (yun/ce4)

Sumatra Ekspres, Senin, 23 September 2013

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on September 23, 2013, in Palembang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: