Kebakaran Melanda, Siapa yang harus Bertanggung Jawab?

Pelanggan Mengabaikan Instalasi

Kebakaran Melanda, Siapa yang harus Bertanggung Jawab?
Membara: Si jago merah melalap bangunan rumah toko (ruko) yang beralamat di Jl SMB II menjelang Ramadhan lalu. Dari insiden tersebut kerugian yang dialami cukup signifikan

________________________________________

Sebulan terakhir, musibah kebakaran terus melanda Metropolis. Kerugian yang dialami korban tak hanya dari segi materi, melainkan harus kehilangan anggota keluarganya karena tewas terbakar. Lantas siapa yang harus bertanggung jawab terkait insiden tersebut?

* * * * * * * * * * * * * * *

Tak ada yang tahu kapan musibah datang. Termasuk kebakaran. Namun selaku manusia sebagai makhluk sosial, sudah sepatutnya mengantisipasi. Terlebih, saat si jago merah ngamuk, maka akan berdampak fatal. Tak hanya pada diri sendiri, malainkan orang lain. Dari sekian kasus kebakaran yang terjadi, korsleting listrik selalu jadi asumsi pertama ketika terjadi kebakaran. Meskipun belum ada penyelidikan khusus, namun dugaan sementara selalu tertuju ke arah korsleting PLN.

Deputi Manager Humas dan Hukum PT PLN S2JB, Lilik Hendro Purnomo mengungkapkan, jika kebakaran berasal dari instalasilistrik bukan tanggung jawab PLN. Melainkan pemilik rumah dan konsuil, karena telah memberikan sertifikasi layak operasional (SLO). “Tanggung jawab kami (PLN, red) dari kWh-ampere sampai ke tiang listrik. Selebihnya ditanggung pemilik rumah,” ujarnya kemarin (21/7).

PLN pun baru akan menyambungkan arus listrik ke rumah warga apabila ada SLO dari organisasi terkait yang menerbitkan. “Kami tidak mau menyalurkan daya ke rumah warga jika belum ada sertifikasi dari organisasi terkait.”

Tetapi saat ini sudah menjadi alasan klasik bagi masyarakat ketika terjadi kebakaran akibat arus listrik. Nyatanya hingga saat ini belum ada korban yang komplain ke pihak PLN untuk minta ganti rugi. “Itu cuma alasan dan dugaan, karena sampai saat ini belum ada yang bisa membuktikan kalau api berasal dari instalasi listrik,” ungkapnya.

Menurutnya, jawaban tersebut sangat sederhana ketika terjadi kebakaran. “Tidak mungkin kan karena pipa PDAM bocor,” imbuhnya. Itu lah pihaknya selalu jadi kambing hitam ketika terjadi kebakaran, tetapi untuk membuktikan secara visual tidak bisa dilakukan.

Padahal, lanjutnya, standardisasi yang dilakukan PLN ketika memasang instalasi dengan menempatkan 2 NCB yakni di dalam dan di luar rumah. “NCB inilah berfungsi untuk memberikan kenyamanan. Sebab, ketika ada kabel korslet maka NCB tersebut otomatis turun, sehingga tidak akan menyebabkan kebakaran,” ungkapnya.

Kecuali memang kabel berdekatan dengan bahan yang mudah terbakar seperti kios minyak, kapas, dan bahan kimia, atau dekat dengan benda suhu panas membuat kabel meleleh dan terbakar. “Tapi kalau korsleting, tidak akan menyebabkan kebakaran karena aliran listrik akan putus karena NCB turun, asal bukan listrik curian,” tuturnya.

Untuk membuktikan apakah api berasal dari listrik atau bukan perlu dilakukan penyidikan yang forensik. “Kalau hasil forensik terbukti dari PLN, maka bisa dibawa ke pengadilan untuk menuntut ganti rugi. Itu pasti akan kami ganti karena tidak ada perusahaan yang kebal hukum,” ungkpanya.

Untuk menghindari musibah kebakaran pihaknya mengimbau masyarakat agar setop kontak jangan terlalu banyak beban pemakaian. “Maksimalkan satu setop kontak untuk 3 beban. Jangan sampai lebih karena bisa menyebabkan panas dan berujung korslet,” imbuhnya.

Hindari listrik ilegal, karena daya yang diterima tidak difilterisasi oleh NCB sehingga saat ada korsleting api langsung menyala. “Terakhir kalau berpergian seminimal mungkin matikan semua penggunaan listrik.” tutupnya.

Sementara Ketua Lembaga Independen Perlindungan Konsumen, Tito Dalkuci mengatakan, jika memang terbukti berasal dari korsleting listtrik artinya PLN harus bertanggung jawab atas musibah ini. “PLN harus bertanggung jawab. Tidak bisa menyalahkan karena kelalai warga atau konsuil, karena PLN yang menyalurkan daya,” ungkapnya.

Apalagi jika pihak PLN semata-mata menyalahkan konsuil karena menerbitkan standardisasi layak operasi (SLO). “Jadi aku menilainya badan sertifikasi ini hanya jadi bumper bagi PLN, karena tidak mau disalahkan,” katanya.

Saat ini, kata dia, PLN berdalih karena kesalahan badan sertifikasi yang menerbitkan SLO. Padahal SLO ini baru dibentuk beberaa tahun terakhir. Sementara terjadinya kebakaran pada instalasi 15 tahun silam. “Korsleting ini banyak terjadi pada pada instalasi tahun 1996 lalu. Dimana waktu itu kinerja PLN yang sangat bobrok, dan belum ada badan penerbit SLO,” imbuhnya.

Menurutnya, badan sertifikasi hanya menilai kelayakan standar yang akan digunakan seperti, kabel, setop kontak, dan saklar, cara pemasangan dan sebagainya. “Sementara yang mengirim daya adalah PLN. Jadi, apabila ada terjadi kebakaran karena instalasi listrk, PLN tidak bisa lepas tangan,” ungkapnya. Pasalnya, tidak akan terjadi kebakaran karena instalasi listrik, jika saja PLN tidak menyalurkan daya.

Oleh karena itu pihaknya berharap kepada pihak PLN untuk mengecek instalasi-instalasi lama yang telah dipasang. “Jangan sampai setelah ada musibah baru mengelak karena tidak mau bertanggung jawab,” tuturnya.

Semestinya, kata dia, ini dijadkan pelajaran bagi PLN, dan mencari solusi bagaimana meminimalisir terjadinya korsleting listrik. “PLN harus terus imbau masyarakat setap wilayah cara menggunakan listrik. Jangan sampai setelah memakan korban baru akan bertindak,” tuturnya.

Memang kata dia, tidak bisa semata-mata menyalahkan PLN. Karena bisa saja kebakaran disebabkan oleh kelalaian pengguna. Seperti, penggunaan listrik terlalu lama sehingga membuat kabel panas dan mengeluarkan api. Tetapi, walau demikan PLN juga tidak bisa lepas tangan. “Intinya PLN harus terus memeriksa instalasi dan mengimbau masyarakat tentang mekanisme pemakaian listrik,” katanya.

Sementara warga lanjutnya, harus menuruti imbauan PLN, dan tidak mengunakan listrik secara ilegal. Dengan demikian pihaknya meyakini kebakaran akibat korsleting listrik dapat diminimalisir. “Dengan kerja sama yang kompleks diharapkan musibah seperti ini bisa dihindari,” tukasnya. (cj9/asa/ce2)

Dominan Arus Pendek

Tiga pekan terakhir selama bulan Juli 2014 sudah 12 kali terjadi kebakaran. Penyebabnya bervariasi, ada arus pendek listrik, bara api, kompor, dan belum diketahui karena masih dalam proses penyelidikan. Demikian diungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB dan PK) Kota Palembang Edison SSos MSi, kemarin (22/7).

Ia mengatakan, selama ini pihaknya sudah sering melakukan sosialisasi ke masyarakat mengenai bahaya kebakaran bersama pihak terkait dan wali kota. “Arus pendek dominan pemicu terjadi kebakaran yang selama ini kita tangani, sejak Januari hingga Juli sudah 75 kali terjadi kebakaran,” ujar Edison.

Katanya, pemerintah harus fokus terhadap penanggulangan bahaya kebakaran, terutama memperhatikan rangkaian listrik yang saat ini berusia sekitar 10-12 tahun. “Di usia ini perlu dilakukan revisi (pergantian) instalasi yang dianggap rentan terjadi bahaya kebakaran,” katanya.

Lebih jauh Edison menuturkan, bahwa pihaknya saat ini memiliki 318 personel lapangan tersebar di tujuh pos meliputi, Merdeka, Seberang Ulu I, Seberang ulu II, Gandus, Alang-Alang Lebar, Sako, Ampera. “Kita ini masih perlu penambahan tiga pos lagi, yang saat ini masih dalam proses pengajuan untuk daerah Lemabang, Kemuning, dan Jakabaring,” ungkapnya.

Untuk menuju kota metropolitan, pihaknya berencana akan menambah enam unit mobil pemadam kebakaran. Saat ini dirasa sangat perlu dilakukan penambahan. “Armada mobil paling baru dibeli 2007, selebihnya kebanyakan tahun 1990-an meliputi, 17 unit damker, 2 fireboat, 1 ladder, 1 smoke RWV, 1 rescue, 1 crane,” terang Edison.

Alasan penambahan tersebut, tidak lain untuk meningkatkan pelayanan ke masyarakat. Begitu informasi datang (laporan masyarakat, red) 5-10 menit sudah di tempat kejadian. Diakuinya, begitu laporan diterima kebanyakan api sudah besar. Dalam hal ini tim juga perlu waktu menuju TKP sehingga terkadang butuh waktu 10-30 menit selama ini terjadi.

“Intinya, saat terjadi kebakaran pastinya upaya penyemprotan (pemadaman, red) api dan bagaimana usahanya untuk memperkecil kerugian masyarakat secara efektif,” terangnya.

Selama Juli ini saja, lanjutnya ada 12 terjadi kebakaran yang tersebar di Kota Palembang. Seperti Kecamatan Sukarami, Mayor Ruslan, Alang-Alang Lebar, Kuburan Cina dan lainnya.

Sebagian wilayah Palembang, diakui daerah yang padat. Terkadang mobil PBK tidak bisa masuk ke kawasan tersebut. Namun, semaksimal mungkin kita lakukan penanggulangan dengan selang-selang dan pompa apung. “600 meter selang mobil pemadam kebakaran masih bisa menjangkau,” terangnya.

Guna mengantisipasi terjadinya kebakaran sebaiknya masyarakat memperhatikan instalasi listriknya, mematikan barang-barang elektronik yang tidak perlu, cabut HP. (nni/asa/ce2)

Sumatera Ekspres, Selasa, 22 Juli 2014

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on July 22, 2014, in Palembang and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: