Melongok Penangkaran Buaya di Sumsel

Kulit ke Jepang, Daging ke Tiongkok

Melongok Penangkaran Buaya di Sumsel
Anakan: pegawai PT Vista Agung Kencana memperlihatkan seekor anak buaya muara yang ditangkarkan di kolam-kolam perusahaan itu.

________________________________________

Bisnis pengakaran buaya cukup menjanjikan. Jadi bahan produk fashion, kulitnya dihargai mahal. Sedang daging reptil ini diminati sebagai obat dan makanan sehari-hari. Di Sumsel, hanya ada dua unit penangkaran buaya yang berizin resmi.

* * * * * * * * * * * * * * *

Salah satunya, PT Vista Agung Kencana di Jalan Provinsi Tanjung Raja-Batas OKU, Desa Payalingkung, Kecamatan Lubuk Keliat, Ogan Ilir. Satu lagi, PD Budiman di Jl Sungai Itam, Kelurahan Siring Agung, Kecamatan Ilir Barat (IB) I.

Koran ini berkesempatan melongok dari dekat penangkaran PT Vista Agung Kencana. Jenis yang ditangkarkan di sana yaitu buaya muara (crocodylus porosus). Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor SK.130/IV-SET/2015, tanggal 12 Mei 2015.

“Saat ini kami baru mengantongi izin penangkaran, belum ada izin pemotongan sehingga belum boleh menjual kulit buaya,” kata Kardi Suryana, teknisi PT Vista Agung Kencana. Dijelaskannya, buaya muara merupakan jenis buaya mahal.

Sisik kulitnya yang kotak-kotak kecil sangat eksotis. Tak heran, kulit buaya jenis ini banyak dijadkan bahan baku pembuatan produk fashion. Sebut saja tas, sepatu, dompet, dan lainnya. “Permintaan dunia internasional memang banyak, khusunya kulit buaya muara,” bebernya.

Untuk mendapatkan kulit yang berkualitas, buaya harus berumur tiga tahun. Di usia itu, biasanya buaya sudah sudah berukuran dua meter. Tapi, kalau panjang buaya sudah lebih dari dua meter, maka tidak boleh dipotong.

“Makanya, kalau mau menyamak kulitnya, harus harus ukuran 1,5 meter sampai 2 meter,” ujar Kardi. Setelah melalui proses penyamakan, kulit buaya pun dihargai per inci. Tapi karena belum mengantongi izin pemotongan dan penjualan kulit, dia tidak tahu harga pasaran kulit buaya.

Hanya pada, 2007 lalu Kardi pernah menjual buaya ke penangkaran di Serang. Satu inci kuit buaya yang sudah disamak dihargai Rp 100 ribu. “Sekarang harganya pasti jauh lebih mahal lagi, mengikuti dolar,” imbuhnya.

Menurutnya, negara Jepang jadi tujuan utama ekspor kulit buaya. Di sana, kulit buaya dijadikan bahan baku pembuatan tas dan sepatu. Produk fashion yang telah jadi itu lalu dipasarkan ke negara-negara Eropa.

Bagaimana dengan dagingnya? Kata Kardi, daging buaya juga diekspor ke luar negeri. Tujuan utamanya, negara Tiongkok. Lalu, Hongkong dan dan beberapa negara Asia Selatan lainnya. Daging buaya dijadikan obat, kornet, dan konsumsi. “Harganya memang tidak semahal kulit, paling Rp 70 satu koligramnya,” paparnya.

Ditambahkan Kardi, pihaknya bakal mengurus izin pemotongan dan juga izin pabrik produksi. Nantinya, setiap kulit buaya hasil penangkaran di Ogan Ilir tidak lagi diekspor ke luar negeri dalam bentuk kulit mentah. Tapi akan diproduksi sendiri menjadi barang jadi. Tak hanya lebih mahal, bisnis ini pun akan bermanfaat luas karena memberdayakan masyarakat sekitar lokasi penangkaran.

Populasi buaya di Sumsel sendiri masih cukup banyak, diprediksi mencapai ribuan ekor. Setiap satu kali bertelur buaya bisa menghasilkan sekitar 30-40 ekor buaya baru. Ditambah lagi 10 persen dari total jumlah buaya yang berada di penangkaran juga harus dilepaskan ke sungai.

Di daerah perairan di Kabupaten Muba, Banyuasin, dan OKI seperti Sungai Tungkal, Sungai Musi, Sungai Penugukan, Sungai Lalan, Sungai Penuh, dan Sungai Merang jadi habitatnya buaya muara dan sinyulong. Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Nunuh Anugerah mengatakan, dari segi jumlah, pihaknya tidak pernah melakukan penelitian.

Tapi kalau dilihat secara geografis, daerah Sumsel yang dikelilingi perairan hampir semua berpotensi jadi habitat buaya. “Kalau dari segi konservasinya, semua jenis buaya dilindungi, baik sinyulong maupun buaya muara air,” bebernya.

Ada kebijakan pemerintah boleh memanfaatkan potensi yang ada dengan membuat penangkaran buaya. Dan di Sumsel hanya ada dua tempat atau penangkaran, yakni PD Budiman dan PT Vista Agung Kencana. “Kedua tempat penangkaran itu resmi, mengantongi izin Direktur Jenderal PHKA,” jelasnya. Ciri-ciri buaya sinyulong, ukurannya kecil, moncongnya lancip. Sedang buaya muara, ukurannya besar, dengan moncong besar. (mik/uni/ce1)

Menyoal Budidaya Hewan Tak Lazim, Buaya
Sulit Penetasan, tanpa Pengawasan

Menyoal Budidaya Hewan Tak Lazin, Buaya
Kolam Induk: Di penangkaran buaya PT Vista Agung Tanjung Raya, induk buaya sebanyak 14 ekor umur 30-40 tahun. Induk buaya itu ditempatkan di kolam besar ukuran 60×70 meter. Tampak pawing buaya menjinakkan induk buaya.

* * * * * * * * * * * * * * *

Kalau beternak ayam, sapi, atau kambing memang sudah biasa. Tapi bagaimana kalau beternak yang tidak biasa, seperti buaya. Terdengar aneh dan menakutkan. Tapi kenyataannya ada yang melakoninya. Bagaimana kondisi sebenarnya?

_______________________________________

Satwa liar seperti buaya termasuk hewan dilindungi karena jumlahnya yang sedikit dan dikhawatirkan punah. Populasinya memang tak banyak lagi, masih sering terlihat di daerah perairan seperti Mukud dan Sembilang, Banyuasin serta Air Sugihan, OKI. Di Palembang, buaya nyaris sulit ditemukan. Namun, terakhir ada temuan buaya di Kelurahan Srijaya, tepatnya di rawa kawasan Taman Wisata Punti Kayu.

Karena satwa liar ini buas dan berbahaya, serta tidak dikonsumsi umum, tak banyak masyarakat tertarik membudidayakannya. Terlepas itu, tetap ada yang menangkar untuk kebutuhan ekspor (bisnis, red) seperti penangkaran buaya yang dikelola PT Vista Agung Kencana di Jalan Provinsi Tanjung Raja-Batas OKU, Desa Payalingkung, Kecamatan Lubuk Keliat, Ogan Ilir (OI).

Penelusuran koran ini ke lokasi, ukuran badan buaya yang ditangkar sangat besar dengan panjang lebih dari lima meter. Buaya itu ditempakan di kolam-kolam air. Di sanalah, para pawang buaya melakukan budidaya mulai dari bertelur, penetasan, hingga pengmbangbiakan buaya dewasa. Kardi Suryana, pawing buaya mengatakan, sedikitnya 235 ekor buaya jenis muara (crocodylus parosus) ditangkar. Ukurannya beragam mulai dari 30 cm sampai 5 meter berumur 30-40 tahun. “Butuh waktu sampai tiga tahun untuk siap potong, dengan ukuran 1,5-2 meter,” katanya.

Ia menjelaskan, proses tersulit dalam penangkaran buaya saat penetasan. Berawal dari proses pengangkatan telur untuk dipindahkan ke ruang hatchery masuk ruangan incubator. “Saat pemindahan, telur tidak boleh terbalik. Biasanya sekali bertelur buaya induk usia 30 tahun bisa mencapai 40-50 telur,” ungkapnya.

Saat masuk ruang hatchery, suhu harus diatur agar telur tidak berjamur. Sebab jika berjamur bisa menular ke telur lain. “Tingkat keberhasilannya mencapai 60 persen. Beda dengan di alam, tingkat keberhasilan menetas hanya 20 persen,” katanya.

Saat menetas, lanjutnya, bayi buaya dipindah ke kolam khusus 1×2 meter dengan kuota 50 buaya. “Air kolam juga harus steril, setiap hari diganti airnya,” paparnya. Bayi buaya retan penyakit, jadi harus telaten. Jika sudah terkena penyakit mata, kecil kemungkinan bisa hidup. “Mereka kanibal, jadi juga harus rajin disortir. Kalau ukurannya lebih kecil, bisa dimakan buaya besar yang lapar,” terangnya.

Setelah beberapa bulan, buaya dipindahkan ke kolam pembesaran berukuran 5×10 meter. Saat ini, terdapat 385 kolam siap pakai jika nanti buaya induk menetas saat musim kawin. “Biasanya kalau musim hujan baru dia kawin. 1,5 bulan kemudian barulah menetas dan bisa diambil telurnya,” katanya. Untuk kolam induk, terdapat 4 kolam besar ukuran 60×70 meter. “Saat ini, kita punya induk umur 30-40 tahun sebanyak 14 ekor. Sementara calon induk umur 7 tahun sebanyak 125 ekor,” bebernya. Masih menurut Kardi, jika sudah dipindah, barulah diurus izin pemotongan hewan. “Kita jual sesuai prosedur, baik kulit maupun dagingnya,” ulasnya.

Mengenai makanan, buaya mengonsumsi daging. Dalam sehari, untuk ukuran 2 meter buaya, biasanya menghabiskan 1,5 kg ayam mati. “Kebetulan perusahaan ini punya ternak ayam di samping penangkaran buaya. Sehingga tidak kesulitan soal pakan. Kita beri ayam mati, bukan ayam hidup, ka nada saja yang sakit atau mati saat sebelum panen,” tambahnya.

Ia menerangkan,penangkaran yang terletak di lahan 12 hektare ini bakal menjadi penangkaran terluas dan termegah nantinya di Asia. Selain fasilitas mendukung, ke depan juga bakal dibuat pabrik penyamakan dan pembuatan bahan baku kulit. “Saat ini baru penangkaran karena baru satu tahun. Nantinya, penangkaran buaya yang di Tangerang, Medan, dan Pontianak bakal dipindah. Terpusat di sini (Tanjung Raja),” tuturnya.

Sebagai pawang yang sudah 27 tahun berteman dengan buaya, Kardi mengaku tak pernah celaka atau digigit hewan reptil ini. Sebab, kunci menaklukkan berani dan yakin. “Kita pelajari gerak dan sifatnya. Kalau paham bisa menaklukkannya,” ungkapnya.

Selain di Tanjung Raja, keberadaan penangkaran buaya juga di perbatasan Kecamatan Gandus, Palembang dan Desa Talang Buluh, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin. Penangkaran itu berada di dalam perkebunan karet warga. Penelusuran koran ini, untuk menuju lokasi penangkaran buaya butuh waktu sekitar satu setengah jam dari jalan besar.

Kemudian masuk perkebunan karet warga dengan sepeda motor. Jika melihat sekilas, masyarakat tak akan tahu lokasi penangkaran karena tersembunyi dari jalan poros dan permukiman warga. Penangkaran ini juga berbeda seperti yang di Tanjung Raja, sering tanpa pengawasan (tidak dijaga, red).

Padahal pantauan koran ini, puluhan buaya besar ditangkar di dalam 7 kandang di lahan seluas 300 meter persegi tersebut. Ini justru mengkhawatirkan warga, jika penangkaran jebol dan hewan liar itu masuk permukiman penduduk. “Kami khawatir penangkaran buaya itu jarang diawasi. Takut sewaktu-waktu buayanya keluar,” ujar Sulai, warga sekitar, kemarin.

Oleh karena itu, dia memintah pemeritah mengawasi penangkaran buaya itu. “Pemiliknya kami tidak tahu siapa, masih simpang siur,” tukasnya. Kepala Satpol PP Banyuasin, Drs Anthony Liando melalui Kasi Trantib Banyuasin, Asrul Sani mengatakan pihaknya sudah terjun ke lokasi penangkaran buaya karena informasinya meresahkan. Tapi saat hendak mengecek ke lapangan, ternyata penangkaran itu di Kecamatan Gandus, Desa Siring Agung. “Jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa terkait masalah tersebut,” singkatnya.

Direktur WALHI Sumsel, Hadi Jatmiko, mengatakan, saat ini jumlah buaya di Sumsel terbilang sudah tak banyak lagi. Itu karena terancam punah. Parahnya, ekosistemnya terganggu pe-nangkapan liar dan rusaknya wilayah tempat buaya hidup. “Harusnya buaya tangkapan diserahkan ke pemerintah atau kembalikan ke ekosistemnya,” sebutnya. Selain penangkapan liar,ada sebagian masyarakat justru pernah memelihara buaya. Mereka tergabung di Komunitas Reptil Sriwijaya (KRS) Palembang. Namun kini, banyak anggota berhenti memelihara buaya. (mik/wia/chy/fad/ce2)

Masih Ada Buaya Liar

Belum lama ini warga Kellurahan Srijaya, Kecamatan Sukarami heboh dengan penangkapan buaya sepanjang 2,5 meter. Buaya itu ditemukan di rawa di kawasan Taman Wisata Punti Kayu. Sebelumnya dikabarkan buaya tersebut meresahkan warga sekitar yang ingin mancing.

Ketua RT 22 Kelurahan Srijaya, Bambang Irawan mengatakan, penangkapan inisiatif warga. “Warga suka mancing di sana,” katanya. Dia mengakui, sebelumnya rawa itu diberi pembatas pagar. Namun tidak ada lagi sejak 2013. Kondisi ini membuat warga bebas memancing dan anak-anak kadang bermain di tepian rawa.

Setelah itu, warga sekitar sering melapor munculnya “mata” buaya hingga ke permukaan air. Dia pun memperingatkan warga tidak berada di kawasan tersebut. “Tapi warga masih saja beraktivitas di sana,” katanya.

Warga yang biasa memancing, Muslim (45) menduga masih ada beberapa buaya di rawa itu. Meski tidak besar, namun dirinya dan teman-teman tidak nyaman memancing. “Jadi kami harus hati-hati,” katanya. Reza (14) dan temannya juga demikian. Kadang bermain di pinggir rawa. “Kelihatan ada buaya sering muncul,” bebernya. (bsp/fad/ce2)

Produk Mahal, Tak Stok Banyak

Sejumlah produk fashion terbuat dari bahan kulit hewan punya nilai ekonomis tinggi, seperti kulit buaya. Salah satu usaha yang menyediakan aneka produk fashion berbahan kulit di Palembang R’B Shop Reptile. Ria Yansen, owner usaha ini mengungkapkan, terbanyak produk ditawarkan berbahan kulit ular.

“Kalau buaya tidak banyak, tapi ada,” katanya. Baru-baru ini, jaket kulit buaya terjual Rp 30 juta. Saat ini, dibutiknya masih ada beberapa produk tas kulit buaya. Harganya Rp 7 juta lebih. Juga ada sepatu, sandal, dompet, tali pinggang dari kulit buaya.

Salah satu penyebab mahalnya produk kulit buaya karena sulitnya mendapatkan bahan baku. Kulit mentah didapat dari penangkaran. “Kalau dari luar penangkaran dilarang karena melanggar hukum,” jelasnya.

Ria sendiri mengambil bahan baku kulit buaya dari Papua. Kulit mentas itu diproses di pabrik dan ia membelinya sudah dalam bentuk lembaran. Proses penyamakan kulit yang tidak mudah. Kulit buaya diproses bahan kimia. Setelah dijemur dengan suhu yang sesuai hingga kering. Ria menyebut, lembaran kulit satu ekor buaya harganya rata-rata Rp 5 juta. Setelah dari Papua, kulit itu di bawa ke Surabaya, tempat dimana para perajinnya bekerja.

Untuk buaya panjang dua meter, bisa hasilnya satu tas saja. Sedangkan untuk membuat jaket, diperlukan kulit 5-10 buaya berukuran besar. “Karena harga jualnya yang mahal, saya tidak stok banyak produk-produk berbahan kulit buaya. Bagi yang mau, harus pesan,” tutupnya. (wia/ce1)

Tas Hermes Buaya Langka dan Dicari

Saking prestise dan banyaknya yang ingin memiliki tas Hermes kulit buaya, membuat Devita Friska (24) melakukan penipuan jual beli tas Hermes seharga Rp 950 juta hingga dia pun ditahan.

Seperti apa kemewahan tas itu? Tas Hermes berbahan kulit buaya dijual fantastis karena proses pembuatannya tidak mudah. Jane Fiends, pemilik situs I stdibs, pernah menjual Hermes Birkin Hirmalayan Crocodile paling mahal di dunia, mengatakan tas itu bisa jadi tas paling langka dan dicari pecinta Hermes.

“Pewarnaan tas ini penuh ketelitian dan memakan watu berjam-jam menyelesaikannya. Semakin terang warna tas semakin sulit prosesnya,” ujar Jane. Nama Himalayan pada tas Hermes Birkin bukan berasal dari nama wilayah asal buaya. Himalayan nama dari tas tersebut. Tas Hermes Birkin Himalayan Crocodile sendiri dibuat menggunakan kulit buaya jenis Niloticus dari Afirka.

Jane mengatakan, Hermes Birkin Himalayan Crocodile berdiameter 30 cm dan berhias berlian yang pernah dijualnya, biasanya diproduksi dengan jumlah terbatas. “Tas ini hanya ditawarkan pada klien VIP yang sudah punya reputasi. Hermes sangat jarang menciptakan benda yang unik seperti ini,” katanya.

Pada Oktober 2014, situs I stdibs dinaungi Jane pernah menjual tas Hermes seharga US$432 ribu atau Rp 6 miliar. Tas ini memiliki keistimewaan tak hanya karena proses pembuatannya yang lama, juga dilengkapi gembok kecil dilapisi emas putih 18 karat dan taburan 40 berlian. Tas juga dihiasi 200 berlian yang beratnya total 8,2 karat.

Sebelumnya pada September 2014, tas serupa pernah juga berhasil dilelang di Heritage Auctions harga fantastis US$185.000 atau sekitar Rp 2,5 miliar. (fad/ce1)

Sumatera Ekspres, Minggu, 6 September 2015

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on September 6, 2015, in Cover Story and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: